Minggu, 24 Oktober 2010

Haji 2006 - “The True Love” Rasullulah…

City Tour diteruskan menuju pemakaman Ma’la. Ma’la termasuk salah satu pemakaman bersejarah yang ada di kota Makkah. Letaknya, berada di sebelah Timur Masjid Harram. Semua ”penghuni” Ma’la menghadap ke kiblat. Ma’la menjadi istimewa karena beserta para alim ulama dan orang-orang shaleh bersemayan jasad ummul Mu’minin Siti Khadijah RA.

Hari sudah hampir tengah malam. Kami hanya berdiri di luar tembok setinggi 1,5 meter. Makam di Ma’la berbeda dengan makam di Indonesia. Makam hanya berupa tanah datar. Yang menandai bahwa tempat itu dikuburkan satu jenazah adalah batu sekepalan tangan orang dewasa. Hal itu sering kami lihat dari dalam bus takala kami melewatinya saat mengambil miqat.

Jangan membayangkan pekuburan mewah dengan keramik yang paling mahal berhiasankan nisan marmer yang mengukir nama orang yang dikuburkan. Satu makam akan digunakan secara bergantian. Apabila ada yang meninggal, jenazahnya bisa jadi dikuburkan di makam yang sebelumnya dijadikan kubur bagi orang lain. Karena itu, tak ada bangunan dan nisan permanen bertuliskan nama orang yang dimakamkan seperti di Indonesia.

Yang membuat istimewa pemakaman Ma’la karena disini istri pertama nabi, Ibu Khadijah RA dimakamkan di pekuburan ini. Dengan demikian, sejak zaman Rasul pemakaman ini sudah ada. Konon sejumlah ulama terkenal di Makkah juga dimakamkan di pemakaman ini. Bahkan ada sejumlah ulama Indonesia yang telah lama bermukim di Makkah, juga dimakamkan di sini. Di antaranya adalah Syeikh Yassin Al Fadani. Perkuburan Ma’la biasanya diperuntukan bagi ulama besar, sedangkan jamaah kebanyakan dimakamkan di pemakaman Syaraya.

Dengan khidmat mendoakan orang-orang yang menempati pemakaman ma’la. Lalu lalang kendaraan yang menyembunyikan klaksonnya tak membuat kami bergeming. Aku berdoa buat perempuan yang teramat nabi cinta. Kecintaan Rasullulah tercermin dari salah satu ucapannya ”Tidak demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku takala semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istri yang lain”.

Subhanallah...maha suci Allah yang telah menganugrahkan perempuan tangguh seperti Siti Khadijah kepada junjunan kita di awal-awal kenabiannya, mendampinginya, mendukungnya dengan jiwa dan harta bendanya. Sungguh surga balasan yang pantas untuk perempuan semulia beliau. Maka dapat kubayangkan kesedihan Nabi takala istri yang dicintainya harus pergi mendahului menghadap sang khalik. Kami terpekur mendoakannya. Suamiku diam menunduk. Matanya seperti biasa terpenjam, sudah menjadi kebiasaannya kalau sedang khusu berdoa.

Ketika rombongan mulai beranjak, aku colek suami yang masih mematung. Dengan isyarat, meminta agar aku tidak mengganggunya. Aku biarkan sejenak sehingga kami menjadi orang terakhir dalam rombongan menuju maktab. Dengan menyeberang jalan layang, kami menyusuri terowongan panjang. Debu dan buangan asap dari kendaraan sedikit menyesakan pernafasan sehingga membuat kami berjalan dengan setengah berlari. Beruntung aku membawa masker, setidaknya sebelum debu itu memenuhi rongga dadaku dapat tertahan oleh masker yang dipasang di hidung.

Kami sampai di maktab dengan kaki kelelahan karena harus berjalan kaki mengitari separuh kota Makkah. Namun segudang pengalaman yang diperoleh menjadi balasan yang layak. Kelak hal ini akan menjadi kenangan buat keluarga di tanah air.

Di maktab suamiku bercerita mengenai seseorang ”mendatanginya”. Seorang perempuan cantik berwajah Arab mendatanginya dan berpesan, ”Jangan meminta syafaat padaku karena aku masuk surga atas jaminan Rasullulah. Aku tidak bisa membantu, namun akan kusampaikan pesan dan doa ini kepada pemberi syafaat. Janganlah meminta kepada selain Allah SWT. Siksa kubur itu ada, setiap manusia yang sudah meninggal jangankan menolong orang lain, menolong dirinya saja susah. Apa yang terlihat mata selama di dunia tidaklah sama di sisi Allah, kecuali bagi orang-orang yang telah memperoleh jaminan dari Allah. Oleh karena itu minta tolonglah hanya kepada Allah SWT.

Wallahu alam bil sawab apakah yang datang ke suamiku itu Ibu Siti Khadijah RA....Tapi aku mempercayai penglihatannya karena ini bukan yang pertama kalinya, mata bathinnya bertemu dengan hal-hal yang di luar batas akal sehat.

0 komentar:

Posting Komentar