Minggu, 24 Oktober 2010

Haji 2006, Separuh Jiwa Tertinggal Di Tanah Harram

Bandara yang dimiliki Kota Madinah tidak seramai Bandara King Abdul Azis. Mungkin juga karena kami tiba menjelang tengah malam. Pemeriksaan lebih tenang, suasanapun cukup lengang. Beda dengan keberangkatan, kepulangan kami direpotkan oleh tentengan oleh-oleh.
Entah mengapa 2 atau 3 hari menjelang pulang kerinduan pada anak-anak begitu menggelora. Terkadang tanpa alasan yang jelas tiba-tiba aku menangis tersedu-sedu menahan kerinduan. Padahal, tiap hari selalu ada komunikasi via telpon atau sms. Tak ada kegiatan yang terlewatkan. Mulai dari pembagian rapot dengan ranking yang memuaskan, melewati Idul Adha tanpa Ayah Bunda, sampai berebut remote control untuk memilih acara TV kesayangannya, dilaporkan dengan lengkap.
Ternyata hampir sebagian besar jemaah mengalami hal yang sama. Kerinduan yang mengusik hati, mendorong tangis yang sukar terhenti. Setiap berkunjung ke kamar tertangga selalu kutemui ibu-ibu bersimpah air mata menata mainan-mainan yang baru dibeli untuk oleh-oleh anak tercinta.
Maka ketika pesawat mengangkasa meninggalkan kota Madinah tercinta, separuh jiwa rasanya tertinggal di tanah harram, namun separuh lainnya ikut kembali karena masih ada kewajiban menanti di tanah air, terutama amanah untuk membesarkan anak-anak.
Aku menyadari yang paling berat dari ujian haji sesungguhnya adalah ketika kembali ke tanah air. Menyandang predikat haji tidaklah ringan. Hal ini menyangkut tanggung jawab moral untuk berperilaku yang lebih baik dari sebelum menunaikan ibadah haji. Pun juga dengan cobaan dan godaan, pasti akan lebih berat. Ibaratnya, ujian SMA tentu berbeda dengan ujian S! Begitu juga dengan ujian S2. Namun patut diyakini Allah SWT tidak akan memberi cobaan melebihi dari kemampuan umatNya. Dan sodaqoh akan menjadi ”penolong misterius” terhadap setiap musibah yang kita hadapi. Jujur saja hal tersebut sempat mengusik benakku. Namun apapun yang kelak kuhadapi, aku harus belajar ikhlas dan mensyukuri serta menyadari bahwa inilah cara Allah menyayangi umatNya agar selalu dekat dan meminta pertolongan padaNya. Setiap cobaan, berusaka kuanggap sebagai kifarat atas kesalah-kesalahan di masa lalu sekaligus ujian untuk meningkatkan derajat. Semoga Allah SWT membekaliku kekuatan dalam menghadapi setiap cobaan. Amiin...
Maka, ketika pesawat mendarat di bandara Soekarno Hatta, ketika suamiku masih sibuk mengumpulkan berbagai bawaannya, aku memilih berdiri di dekat pintu agar dapat mengintip keluar. Mataku sibuk mencari anak-anakku diantara ratusan manusia yang berjejal di luar pagar meneriakan nama-nama keluarga yang dijemputnya. Samar ada suara yang kurindukan. ”Bunda....Bunda...” aku mencoba memfokuskan pada 2 anak laki-laki perempuan berbaju merah. Ternya Asya dan Diaz. Tiba-tiba air mataku berhamburan. Segera kutelpon Saudaraku yang bekerja di Depag dan memintanya membawa mereka ke hadapanku.
Subhanallah...kami telah menitipkan anak-anak pada perlindungan Allah SWT. Nyatanya, Allah SWT telah menjaganya dengan baik, lebih dari yang kuperkirakan. Mereka tampak begitu sehat. Adek yang biasanya kurus tampak lebih gemuk dari saat awal kutinggalkan. Tanpa kupedulikan barang bawaan, kurentangkan kedua tangan ketika mereka menghambur ke pelukan. Kucium satu persatu seraya mengucap syukur. Adegan berulang ketika ayahnya datang, mereka menghambur dalam rengkuhan tangan yang kokoh. Kami berempat berpelukan, seakan menebus waktu 40 hari yang terpisah. Alhamdullilah......
Satu hikmah yang kuperoleh, jangan ragu untuk bersandar pada Allah. Takala kita tak berdaya, takala semua orang meninggalkan kita, Allah tak akan beranjak dari diri kita, tanganNya akan terulur menopang tubuh kita yang lunglai. Setitik asa yang kita minta, selaksa bahagia yang akan kita peroleh. Terimakasih ya Allah atas nikmat kehidupan yang masih Engkau pinjamkan, aku bermohon limpahan rahmat dan hidayahMu, semoga hatiku senantiasa disi dengan cinta dan ridhoMu. Amin ya robbal alamin.

0 komentar:

Posting Komentar