Minggu, 24 Oktober 2010

Haji 2006, Jabal Magnet... Menarik Kendaraan Ke Arah Madinah

Masih 2 hari sisa waktu di Madinah. Satu tempat yang belum kami kunjungi yaitu Jabal Magnet. Pak Karim kembali berbaik hati mengajak kami wisata malam. Jam 10.00 malam menjelang Masjid Nabawi tutup, mereka sekeluarga menanti kami di lobby Hotel.

Jabal magnet terletak 30 km dari Madinah ke arah kota Tabuk. Sebelum mobil mengarah ke pintu tol menuju kota tersebut, Pak Karim membelokan mobil menuju flat nya. Ternyata 2 temannya dari Jeddah sudah menanti dalam 2 mobil. Dengan 3 mobil kami beriringan menuju areal misterius tersebut.

30 menit waktu yang ditempuh untuk sampai di areal pegunungan. Jabal magnet layaknya daerah puncak untuk penduduk Jakarta. Kawasan ini memiliki pemandangan yang indah. Gunung batunya dihiasi pepohonan. Sayang mataku tidak merekam keindahannya. Persis dilereng sebelum mendaki ke atasnya ada taman dengan air terjun buatan yang Indah. Setelah itu kami menyusuri jalanan yang menanjak. Kurang dari 15 menit akhirnya kami sampai di tanah datar.

Pak Karim menyuruh kami memperhatikan orang Arab yang tampaknya sedang berkemah. Bukan tendanya yang menjadi fokus perhatian, melainkan parkiran mobilnya.

Mobil yang mereka bawa tergolong mobil mewah. Dengan memakai pengungkit, lazimnya mobil mau mengganti ban, bagian bawah mobil yang terangkat diganjal dengan batu-batu yang tersusun rapi. Hasilnya, mobil tersebut seperti memiliki pigura. Kami yakin membuatnya memerlukan waktu lebih dari 3 jam. Biasanya orang Arab tersebut berkemah 3-4 hari untuk menikmati kreasinya. Dan mobil mewah itu dibiarkan terongok di atas batu. Kita yang melihatnya jujur saja sangat menyayangkan. Mobil berharga ratusan juta dalam kondisi masih gres harus baret-baret terkena gesekan batu. Namun itulah orang Arab, kreativitasnya banyak terkendala oleh alamnya yang tidak memberi banyak pilihan untuk melakukan banyak hal. Alhasil sesuatu yang tampak aneh di mata kita, menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka. Pemdangan seperti itu dapat ditemukan dari awal Jabal magnit sampai di ujung bukit. Hal tersebut lebih ramai lagi apabila liburan. Terkadang mereka berkemah dengan membawa kembang api yang disukut dan menghasilkan semburat warna warni indah,

4 km sebelum jalan mencapai daerah buntu adalah kawasan yang memiliki medan magnet. Tiba di ujung Pak Karim meminta suamiku untuk memperhatikan mobil. Mesin dimatikan dengan gigi tetap masuk. Subhanallah....dengan kuasa Allah mobil melaju perlahan, makin lama makin kencang. Kulihat spedometer menunjuk angka 80. Mobil melaju tanpa deru mesin menuju arah Madinah Al Munawaroh. Setir harus tetap dipegang dengan baik karena beberapa tempat rawan kecelakaan.

Pernah kubaca kisah mengenai keajaiban haji, area ini ditemukan oleh wartawan Indonesia yang disela-sela ibadahnya melakukan liputan. Mobilnya yang terparkir tiba-tiba bergerak sendiri. Dan kami disini membuktikan sendiri keajaiban tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar