Minggu, 24 Oktober 2010

Haji 2006 - Mina, Membebaskan Jamaah Dari Kelaparan

Pada saat jamaah lain masih berlari-lari berebut makanan, kami sudah bersiap-siap berangkat dalam rombongan pertama yang menuju Mina. Bus datang begantian di ujung lapangan area mabit di muzdhalifah. Jamaah berbaris berjejal-jejal pada jalanan sempit yang berpagar tali. Hati-hati kami melangkah khawatir menginjak jamaah lain yang menunggu giliran untuk dijemput.

Mina merupakan terletak antara Makkah dan Muzdhalifah sekitar 7 km. Mina adalah tempat dimana jamaah haji diperintahkan untuk bermukim dan bermalam pada malam ke 10 dan hari tasyrik yaitu hari ke 11,12 dan 13.

Bus berjalan lancar. Pinggir jalan yang dipenuhi pejalan kaki tidak menghalangi lajunya. Barangkali dikarenakan kami yang diberangkatkan rombongan pertama sehingga jalanan belum terlalu sesak. Hampir jam 2 dini hari kami tiba di daerah Mina. Bus memasuki jalanan kecil yang kiri kanan dipenuhi oleh tenda-tenda. Di Mina kami seolah menemukan denyut kehidupan kembali. Dari ujung ke ujung jalanan dipenuhi pedagang kaki lima yang berbaur dengan para pengemis.

Jamaah kembali menempati tenda-tenda. Tenda di Mina lebih permanen dan lebih bagus dibandingkan dengan tenda yang di Arafah. Tenda dialasi karpet tebal dan dilengkapi AC. Berjajar rapi seperti layaknya sebuah perkampungan.

Pemerintah Arab Saudi melengkapi berbagai pelayanan dan kenyamanan jemaah haji. Daerah kaki gunung ditata dan dibenahi sedemikian rupa untuk memperluas daerah haji, agar memiliki daya tampung yang besar. Jalan-jalan diperluas, jembatan, penampungan dan penyediaan air bersih, tempat wudlu dan toilet, pelayanan kesehatan cuma-cuma, pengawasan keamanan, penertiban lalu lintas serta perkemahan anti api dibangun dengan seksama. Mina mirip perkampungan permanen.

Pada musim haji, Mina sangat ramai dan menjadi tempat perniagaan. Pengemis sepertinya turut pindah ke Mina pada hari Tasryik. Mereka duduk di sepanjang jalan, menadahkan tangan meminta sedekah dari jamaah haji yang bermukim disini sampai 3 hari.

Di Mina kami tak khawatir lagi jika pemerintah kembali tak memberi rangsum makanan yang memadai. Penjual makanan dijumpai di setiap sudut jalan. Kemah kami terletak di pinggir jalan. Kegaduhan orang menawarkan dagangan menghinggapi pendengaran kami setiap saat.

Sesampainya di perkemahan, segala perlengkapan disimpan dan selanjutnya bersiap-siap untuk melakukan lempar di Jumrah Aqobah. Ketua Regu sudah memanggil-manggi anggotanya lewat pengeras suara portable yang dikepitnya setiap saat. Tak seperti biasanya, segala aktivitas selalu ditandai keriuhan, kali ini kami berbaris dengan tertib dan hening. Tiap baris berjejer 5 orang, 3 perempuan di tengah, 2 laki-laki di bagian pinggir.

Saat menunggu barisan rapi, aku memeriksa batu yang akan digunakan untuk melempar. Setelah genap, kembali kupanjatkan doa dan dzikir. Dalam lempar jumrah ini sering kudengar begitu banyak kejadian yang mengancam keselamatan jiwa.
2 tahun yang lalu ratusan jemaah haji, meninggal di tempat pelemparan karena terinjak-injak jamaah lainnya. Bunyi sirine ambulance yang meraung-raung lalu lalang, membuat hati agak gamang. “Ya Allah lindungilah kami. Ya Allah mudahkanlah...selamatkanlah....”

Aku teringat anak-anak yang masih kecil. “Diaz dan Asya tolong doain Ayah dan Bunda agar kami semua selamat karena disini kematian begitu dekat”. Air mata kembali deras turun membasahi pipi.

Talbiyah mulai bergema, barisan perlahan berjalan. Jamaah paling depan memegang tongkat kayu yang atasnya dipasang lampu kedap-kedip sebagai penanda rombongan Asy Syifa. Kami dipesankan untuk selalu melihat tanda tersebut agar tidak tercerai berai terpisah dari barisan. Dari ujung perkemahan, langkah dibelokan ke kanan, melintasi kolong jalan layang. Sepanjang perjalanan banyak bus yang terparkir rapi di depan tenda jamaah. Tenda-tenda darurat untuk haji peroranganpun rapat berdiri memagar jalan. Tendanya kecil-kecil mirip tenda pramuka dengan warna-warna yang menyolok. Beberapa keluarga Arab tampak sedang berkerumun membawa anak-anak mereka yang masih balita. Angin malam yang dingin tidak menghapus keceriaan mereka untuk turut dalam haji akbar ini.

Kurang dari 500 meter kami sudah sampai di terowongan mina. Terowongan megah itu berdiri kokoh menembus tingginya gunung batu. Kami datang dari arah kiri pintu terowongan, yang dibatasi pagar besi yang masih tertutup.

Seorang askar menutup dan membuka pagar menjaga kepadatan terowongan. Saat kepadatan melonggar jamaah dipersilahkan masuk secara bergantian dari berbagai arah. Kami masuk bersamaan dengan ribuan jamaah dari negara lain. Terowongan itu bergemuruh oleh suara kipas angin raksasa yang dipasang di langit-langitnya. Gemuruhnya sama dengan gemuruh yang ada di dada kami. Aku memegang erat tangan suami untuk saling membagi kekuatan. Kubayangkan, tahun-tahun sebelumya, saat terowongan hanya ada satu, dapat dipastikan orang yang masuk dan keluar seringkali bertubrukan di tengah terowongan. Berapa ratus jamaah dari Indonesiapun pernah meninggal karena terinjak jamaah lainnya.

Kami melangkah satu demi satu. Bila antrian padat, maka kami memilih menepi memberi kesempatan kepada rombongan lain untuk mendahului. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh terowongan. Terlihat di sepanjang terorongan ada beberapa pintu darurat yang bisa digunakan kapan saja. Alhamdullilah sekarang sudah lebih tertib.

Pemerintah Arab Saudi tampaknya memperoleh banyak pelajaran dari berbagai kecelakaan yang menimpa jamaah. Maka, sudah menjadi kewajibannya untuk menyambut tamu Allah ini dengan sebaik-baiknya dan menyediakan fasilitas untuk keamanan dan kenyamanan bagi jamaah.

Keluar dari terowongan, mata lepas memandang seluruh area pelemparan. Tempat jumrah Aqobah belum terlihat, yang terekam mata hanya lautan manusia berjejal menuju satu pusaran yang sama.

Disinilah Nabi Ibrahim pernah diperintahkan menyembelih buat hati terkasih, Nabi Ismail AS. Disini jugalah Nabi Ibrahim AS dicegat dan digoda syaitan untuk mengurungkan maksudnya. Lempar jumrah merupakan replika Nabi Ibrahim AS mengusir syaitan.

Kami berhenti sejenak dalam radius 500 meter dari sumur aqobah, persis di depan sebuah rumah makan siap saji. Pak Kiai berinisiatif membeli ”nasi mandi”. Ternyata porsi yang mereka buat cukup untuk berempat, setumpuk nasi dan ½ ekor ayam yang dipotong dalam ukuran besar, dikemas dalam box sterofoam.
Secara estafet makanan berpindah dari si penjual sampai di tangan kami. Nasi hangat tersebut langsung dikerubuti. Tak sampai hitungan ke 30 bungkus, seluruh jamaah sudah menikmati hangatnya nasi goreng di tengah cuaca yang dingin.

Aku berjongkok seadanya bersama suami dan 2 orang lainnya. Alhamdullilah ya Allah... nasi ini terasa nikmat dan menjadi penghangat perut yang kedinginan. Inilah nasi pertama yang kami santap sejak meninggalkan Makkah 2 hari yang lalu.
Sekelompok jamaah berkulit putih tampaknya sudah lama memperhatikan kami. Salah satu dari mereka menyapa Kami.
”Assalamuallaikum” seseorang menyapaku.
Kutengok suamiku yang mengijinkanku untuk membalas sapaannya. ”Waallaikumsallam warahmatullah wabarakatuh”.

Tak disangka tangannya terjulur menyodorkan sebungkus makanan utuh. Mungkin mereka pikir kami masih kelaparan karena harus berbagai pada porsi yang terbatas. Aku memberi isyarat bahwa makanan tersebut sudah cukup untuk perut kami. Namun ia memaksa dan senyum tulusnya membuatku mengulurkan tangan menerima makanan yang diberikannya.
”Thank you...”, kataku sambil mengangguk
”You’re welcome”, jawabnya ramah.

Dengan serta merta kamipun kembali mengerubungi bungkusan nasi tersebut. Aku tersenyum malu, tapi tampaknya orang tersebut memaklumi. Bisa jadi tragedi kelaparan yang menimpa jamaah Indonesia sudah sampai kabarnya di telinga jamaah lain. Yang pasti...di tanah Harram ini orang memang berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Beres makan, kami berdiri kembali. Barisan dirapikan seperti semula, dan dengan mengucap bismillah barisan mulai beranjak. Aku melambaikan tangan pada rombongan yang baik hati itu dan mengucapkan salam perpisahan.
”Good bye. Nice to meet you”.
Ia balas dengan menganggukkan kepalanya. ”Semoga Allah memberikan balasan yang berlipat ganda atas kebaikan yang telah kami terima”.



Pak Kiai berkali-kali menelpon Pak Karim (temannya yang mukim di Madinah) yang sudah berada di sekitar sumur aqobah untuk memastikan situasi dan kondisi di tempat tersebut. Dan ketika kabar yang diperoleh bahwa desakan sudah mulai melonggar kamipun siap-siap berangkat. Rombongan bergerak mendekati jumrah aqobah, namun tidak langsung melainkan merapat terlebih dahulu di tiang-tiang besar kira-kira 30 meter dari sumur. Jamaah yang muda terlebih dahulu diperintahkan untuk melakukan lemparan. Sementara jamaah yang sudah udzur diminta menunggu terlebih dahulu di sepanjang tiang bangunan, bergerombol agar tidak tercerai berai.

Kami merayap mendekati sumur aqobah. Suamiku menahan tanganku yang siap melempar dan mengingatkan agar melempar persis di tengahnya. Bunyi gemuruh batu yang jatuh ke dinding bergertar menimbulkan irama berderak-derak. Persis ditengah sumur, aku lemparkan batu tersebut satu persatu seraya mengucap ”Bismillahi...Allahu Akbar. Ya Allah jadikanlah ibadah hajiku ini haji yang mabrur”.

Genap lemparan ke tujuh, aku mengambil satu lagi. Sambil melempar kulafadzkan niat ”Ya Allah ini pengganti bagi lemparanku yang tidak sempurna”. Beruntung di belakang kami orang-orang Afrika yang tinggi besar. Lemparan mereka lebih tinggi di atas kepala. Namun kami tetap keluar dengan menunduk dan berjalan sambil menutupi kepala dengan sebelah tangan untuk menghindari batu nyasar.

Di luar kerumunan, kami menjinjitkan kaki mencari lampu penanda jamaah Asy Syfa. Ternyata masih berada dekat pilar tempat awal berkumpul. Dengan sedikit memutar kami menuju ke sana. Jamaah perempuan yang selesai melempar jumrah diperintahkan istirahat, sementara yang laki-laki diperintahkan untuk membuat barikade, melindungi jamaah yang tua yang akan melempar jumrah. Semua bergiliran dengan tenang, sampai seluruhnya tuntas menjalankan lemparan.

Hujan tangis kembali hadir di tengah kami. Kami berpelukan sambil mengucapkan selamat karena Allah telah memberi perlindungan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah ini. Dalam isak tangis dan sedu sedan, tidak laki-laki atau perempuan, Pak Kiai memimpin doa yang diperdengarkan juga lewat handphone sehingga jamaahnya yang di Sumedang dan Bandung turut mendengar dan mengaminkan do’a tersebut.

Selanjutnya iringan berjalan menuju arah berlawanan dengan perkemahan kami di Mina. Setelah berjalan 1 km sampai di perempatan jalan, kami baru bertemu dengan bus tumpangan yang akan membawa kembali ke Makkah.

Hari mulai beranjak pagi, tampaknya tidak keburu lagi untuk mengikuti shalat Iedul Adha. Namun yang pasti, jadwal kami hari ini adalah menyembelih kambing, bercukur, thawaf Ifadah, sai dan mencukur rambut. Dengan thahalul awal, kami sudah terbebas dari larangan ihram, kecuali berhubungan suami istri.

0 komentar:

Posting Komentar