Minggu, 20 Desember 2009

Infaq seorang Hakim


Momentum Iedul Qurban tahun ini membuat saya membaca berulang kali beberapa literatur tentang pengorbanan yang dilakukan Ibrahim Alaihis-salam. Saya yakin, anda sudah mengetahui hal ini. Saya mendalami makna cinta yang begitu kuat dalam hati Ibrahim As kepada Tuhannya, hingga ia rela mengorbankan apa saja yang terbaik miliknya demi mempertahankan kecintaan yang luar biasa itu.
Membahas tentang pengorbanan berjuang di jalan Allah, ada satu kisah yang hendak saya sampaikan atas perjalanan hidup yang Allah hadiahkan kepada saya.

Dompet Dhuafa Kaltim mengundang saya untuk berpartisipasi dalam acara yang mereka buat demi membantu saudara-saudara korban gempa bumi di Sumatera Barat pada medio Oktober lalu. Tiket sudah dipesan, acara telah dirancang, hanya menunggu hari 'H'. Tanggal yang dimaksudpun tiba.
Seperti perjalanan ke luar kota sebelum-sebelumnya, saya menganggap bahwa ini adalah perjalanan dakwah biasa-biasa. Namun ternyata tidak!
Pesawat dikabarkan delayed 30 menit. Sebab saya merasa lapar saat itu, maka saya pun pergi mencari makan. Begitu saya kembali ke ruang tunggu rupanya sudah sepi, dan saya diberitahu bahwa pesawat sudah menutup pintu dan hendak berangkat beberapa saat.
Sedikit 'nerved', saya berargumen kepada petugas bahwa saya tidak mendengar panggilan atas nama saya atau pemberitahuan bahwa pesawat akan diberangkatkan. Setelah berupaya menghubungi pihak pesawat, petugas itu pun memberitahukan saya bahwa saya bisa naik ke pesawat. “Alhamdulillah...!†pekik saya. Andai saya tertinggal pesawat, maka tak bisa dibayangkan kekecewaan panitia penyelenggara di Balikpapan.

Beberapa saat kemudian, pesawat tiba di bandara Sepinggan, Balikpapan. Saya dijemput oleh perwakilan panitia. Dalam perjalanan menuju hotel, saya menanyakan lokasi acara. Mereka memberitahukan bahwa acara digelar di masjid Istiqomah. Saya bertanya , “Apa ada jemaahnya... bukankah ini malam minggu dan acara digelar pukul 20?†Dengan santai panitia menjawab, “Tenang pak...., insya Allah jemaahnya banyak. Sudah beberapa kali masjid ini bikin acara pada waktu serupa, Alhamdulillah jemaah antusias untuk datang.†Saya sedikit terhibur mendapat jawaban itu.

Rupanya benar dugaan saya, jemaah yang saya harap akan banyak hadir rupanya hanya memenuhi kira-kira seperempat dari kapasitas ruang masjid. Banyak terlihat 'space' melompong di sana-sini. Agak sedikit prihatin dengan jumlah jemaah yang ada, dan saya berpikir keras tentang target penggalangan dana panitia, maka saya pun berujar dalam hati, “Ya Allah, semoga kami mampu memberi yang terbaik di jalan-Mu!â€
Jujur saja, sebelum memulai menyampaikan materi, saya sedikit pesimis akan dana yang hendak digalang. Namun berulang kali saya berhenti berceramah untuk sekedar meluruskan niat Lillahi Ta'ala.

Maka saat penggalangan dana pun tiba. Saya melihat mereka semua antusias mengulurkan tangan memberi bantuan. Namun lagi-lagi karena jumlah audiens yang sedikit saya merasa khawatir akan jumlah dana yang tidak akan menyentuh target.
Alhamdulillah... dana terkumpul beberapa belas juta rupiah malam itu, namun jumlah itu saya yakin masih jauh dari target panitia.

Hanya kepada Dia Yang Maha Agung, kita sepantasnya berserah diri.

Malam itu bagi saya bukanlah sebuah prestasi dakwah yang menggembirakan. Saya sedikit prihatin dan kecewa. “Mengapa hanya segini rezeki yang Allah karuniakan dalam majelis kita?†batin saya.

Namun rupanya kekhawatiran itu segera dijawab Allah Swt. Seorang panitia datang kepada saya memberitahukan bahwa ada seorang jemaah hendak minta waktu untuk berbicara.
Setelah saya bersedia maka jemaah tersebut dipersilakan dan kami pun duduk berdua di karpet masjid.

Dia adalah seorang anak muda berusia 27 tahun, sebutlah namanya Hakim. Dari wajahnya saya melihat ada sinar yang Allah pancarkan ke dalam hatinya.
Ia mengajak bicara beberapa menit sebagai pembuka. Saat saya tanya apa keinginannya, maka Hakim berkata, “Tadi bapak dalam ceramah menyampaikan berulang-ulang untuk memberi yang terbaik di jalan Allah.†“Ya, betul!â€jawab saya.
Hakim melanjutkan, “Tadinya saya ingin memberikan hape saya ini sebagai infak...†Kalimat dari mulutnya terputus. Ada jeda beberapa detik bagi Hakim untuk menyambung kalimatnya. Saya pun penasaran menunggu selama itu.
“Namun setelah pikir-pikir, sepertinya saya urung memberi hape ini†jelas Hakim.
“Lalu apa yang hendak Anda sampaikan kepada saya?†saya bertanya kepadanya. Hakim pun menjawab, “Setelah saya berpikir ulang, maka saya mendapati bahwa harta terbaik yang saya miliki bukanlah hape, tapi saya mohon bapak menerima ini sebagai infak dari saya!â€
Maka Hakimpun menjulurkan tangannya kepada saya seolah ingin berjabat, dan saya pun menyambut tangannya yang terulur.
Namun saya merasa ada sebuah benda cukup besar yang terselip antara telapak tangan kami. Saya bertanya kepada Hakim, “Apa ini?†Dia menjawab, “Itu harta terbaik yang bisa saya infakkan, pak!â€
Saya pun membuka telapak tangan saya. “Subhanallah...!†saya terperanjat. Kini ditelapak tangan saya ada sebuah kunci mobil.
Saya terkagum, terpesona, dan sesaat terbungkam. Betapa terperanjat hati saya sehingga bola mata terasa hendak meloncat saat menerima infak sebesar ini.
Seketika itu juga hati saya berbunga sebab merasa terhibur dengan anugerah luar biasa yang Allah berikan kepada saya.
Dana yang telah digalang malam itu yang bernilai hanya beberapa belas juta rupiah, rupanya dilengkapi Allah Swt dengan sebuah mobil milik Hakim yang ia infakkan dengan harga saya yakin lebih dari 100 juta rupiah.

Hakim, 27 tahun memberikan harta terbaik yang ia miliki untuk membantu saudara-saudaranya yang menjadi korban gempa di Sumatera Barat.
Ia berkorban dengan sepenuh hati dan kesadaraan penuh. Meski mungkin kini ia belum punya mobil lagi, namun saya yakin hatinya sudah setenang nabiyullah Ibrahim Alaihis-salam saat hendak mengorbankan anaknya tercinta. Ya, ketenangan dan kedamaian yang diberikan kepada Ibrahim As dari Allah Swt yang kagum atas pengorbanan hamba-Nya.

(Bobby Herwibowo (bobby_hero77@yahoo.com)

0 komentar:

Posting Komentar