Selasa, 22 Desember 2009

Ada Ibu Di Hari Ibu


Hari itu hari ibu, kudengar kabar ibuku masuk rumah sakit karena ada tumor menempel di payudaranya. Malam itu juga kami meluncur ke kota asalku untuk. Tak ada hujan tangis yang berlebihan melihat kondisi ibuku yang segar. Lebih-lebih kudengar sebelum masuk rumah sakit masih menyempatkan diri untuk main bulu tangkis bersama klub nya. Ibuku berumur 56 tahun, tetapi karena pekerja keras badannya tampak kuat. Maka, siapa menyangka dalam badannya tersimpan penyakit seperti ini. Usai operasi dan setelah memastikan semua berlangsung dengan baik kami kembali ke Jakarta. Seminggu kemudian beroleh kabar kembali bahwa payudaranya bukan hanya sekedar terkena tumor jinak, melainkan kanker stadium 2.

2 hari setelah itu, ibu dan bapaku datang berdua ke Jakarta. Aku sama sekali tak menyangka akan datang secepat itu tanpa diantar adik-adikku. Ternyata hal tersebut mereka sengaja untuk tidak merepotkan dan merahasiakannya dari seluruh kerabat yang ada. Ya Allah...ibuku yang segar telah berubah jadi perempuan yang rapuh. Aku ingin menangis melihatnya. Kemana ibuku yang kuat dan bersemangat, penyakit ini telah menelan habis semangatnya. Namun kutahan semua itu, aku harus tampak tegar dan menjadi penopang ibuku yang rapuh.

Aku memilih dokter dari beberapa referensi yang kuperoleh, rumah sakitnya tinggal memilih di tempat dimana dokter itu praktek. Pemeriksaan awal mulai dilewati tahap demi tahap untuk menentukan pengobatan apa yang paling tepat. Keputusannya cukup mengejutkan. Mempertembangkan umur ibu yang sudah tua, maka alternatif terakhir yang diambil yaitu dengan mengangkat seluruh payudara kanannya.

Untuk wanita, entah yang muda ataupun yang tua, payudara merupakan satu organ penting. Oleh karenanya keputusan untuk mengangkatnya merupakan hal cukup berat. Namun ternyata ibuku ikhlas melakukannya. Sambil menunggu jadwal operasi kami sekeluarga berusaha menghiburnya. Kedua anakku diberi sedikit pengertian dan dengan bijaknya mereka memenuhi keinginan orang tuanya untuk turut menghibur neneknya. Maka di luar jadwal belajarnya, mereka lebih banyak mengisi waktu bermain dengan nenek. Sesekali aku menimpali dan mengingatkan bahwa ibuku memiliki banyak cucu yang senantiasa mendoakan dan mengharapkan agar neneknya sehat sampai tua dan turut menyaksikan cucu-cunya menuju usia dewasa. Perlahan optimisme ibuku mulai tumbuh. Ketakutannya berubah menjadi kepasrahan kepada sang khaliq.

Saatnya operasi ibuku sudah kuat dan siap dengan berbagai kemungkinan terburuk. ”Umur tidak ada yang tahu, namun bila boleh menawar mamah ingin diberikan umur panjang agar memiliki kesempatan untuk meningkatkan ibadah”. Kami melepasnya ke dalam ruang operasi seperti melepas ke liang lahat. Ada derai air mata karena ketakutan tak dapat melihatnya hidup.

Operasi itu berlangsung 4 jam, namun cukup waktu untuk merekontruksi sepak terjang hidup ibuku sepanjang yang aku ingat. Dari cerita yang selalu kudengar, Ibuku menikah pada usia 17 tahun. Kesulitan ekonomi menjadi alasan mengapa menikah muda. Pernikahan itu dipenuhi harapan agar terbebas dari keprihatinan. Maka takala guru SMP nya melamar, tak ada penolakan sama sekali. Setelah menikah ternyata ibuku harus bergelut dengan kesibukan mengurus anak. Setahun pernikahannya, Allah SWT menganugerahinya seorang anak laki-laki. Kemudian menyusul 2 tahun sekali lahir seorang anak. Usia 27 tahun rumah yang sempit sudah dipenuhi 5 orang anak kecil. 5 tahun kemudia tambah lagi anak laki-laki sebagai penutup. Samar kubayangkan, ibuku yang sering kerepotan mengurus anak. Mulai lahir anak ke 4, kakakku sulungku dititipkan di adiknya Bapak yang belum punya anak. Sementara aku diambil nenekku dari pihak ibu. Karena rumahnya berdekatan aku masih mengingat repotnya ibu jika anak-anaknya sakit. Pernah satu kali, adikku yang ke 3 dan ke 6 masuk rumah sakit. Aku yang waktu itu masih berumur 11 tahun harus menunggui 2 adikku karena nenekku meninggal. Subhanallah....betapa bingungnya melihat si bungsu menangis menjerit-jerit sementara yang satu lagi minta pipis. Dan dengan usiaku yang belum begitu besar, aku berjuang untuk mengatasi semua ini. Semua kulakukan karena mencontoh ketegaran ibuku.

Sebulan yang lalu, kabar kembali datang dari kampung, katanya ibu sakit. Dan seperti biasa, rasa panik langsung menguasai pikiranku. Setelah meletakan telpon aku tak bisa menjawab pertanyaan suamiku karena sibuk menahan tangis yang tiba-tiba mendesakku. Suamiku berinisiatif menyuruh anak-anak beres-beres baju bekal dan memerintahkan untuk bersiap-siap pulang..

Sampai di kampung, ibuku sudah terkapar di salah satu ruangan di rumah sakit kota kecil itu. Begegas aku menghampiri. alhamdullilah mamah bisa tersenyum, alhamdullilah mamah masih bisa tertawa, wajahnya yang pucat tampak berdarah kembali ketika anak-anakku mencium tangannya. Alhamdullilah sampai saat ini aku masih menikmati hari-hari bersamanya.

Hari ini hari ibu (8 tahun kemudian), entah berapa 22 Desember lagi aku berkesempatan engucapkan selamat hari ibu. Yang pasti dalam waktu yang semakin melaju dan tak dapat kutahan, dalam sisa yang semakin dekat pada ”perhentian” Semoga Allah memberi kesempatan untukku berbuat susatu yang membahagiakan Mamah dan Bapak. Mungkin mamah tidak mengerti bahwa hari ini hari untuknya, hanya satu yang dimengerti olehnya bahwa ia akan selalu menjadi ibu kendati anak-anaknya sudah menjadi ibu, bahwa ia akan menganggap anaknya tetap anak kecil kendati anaknya sudah memiliki anak kecil. Tangannya yang mulai merapuh menjadi berubah trampil takala berada di dapur menyediakan makanan kesayangan anaknya yang mau berkunjung pulang mengunjunginya. Dalam kerudungnya yang usang, tercetak perjalanan hidupnya.
Dalam hamparan sajadah cintanya selalu ada doa yang tak pernah putus buat anak-anaknya.

Mah...(Bapa juga) selamat hari ibu, semoga Allah senantiasa memberi keberkahan, kesehatan dan kebahagiaan buat Mamah dan Bapak menikmati masa-masa tua. Terima kasih ya Rabb...dalam 8 tahun terakhir banyak hal yang ingin dilakukan ibuku bisa ditunaikan dengan baik. Amiin..

0 komentar:

Posting Komentar