Minggu, 02 Januari 2011

Tiga Malam Di malaysia


Jalan-jalan ke luar negeri bersama anak-anak merupakan hal yang diidam-idamkan. Namun perasaan ragu dan khawatir harus bepergian di negeri orang lebih mendominasi. Alhasil rencana tinggal rencana, tinggal nunggu keberanian saja.
Ayahnya mendesak, anak-anak menuntut, tak punya pilihan, akhirnya diputuskan tujuannya ke negeri jiran “serumpun” malaysia. Pertimbangnya, masih satu bahasa, masih satu budaya tentu tak sulit untuk menyesuaikan.

Langkah pertama yang dilakukan adalah browsing mencari ticket murah...teuteup bo !! namanya ibu-ibu kudu hemat.  Dari beberapa maskapai akhirnya pilihan jatuh ke Air Asia, cari ticket promo, jadwal disesuaikan dengan tanggal merah. Dapatlah, seorang kena Rp. 700 ribu pp. Lebih murah daripada ticket pulang ke kampung.  Rencananya ngejar waktu 4 hari 3 malam biar kenyang. Dan tidak direncanakan untuk trip ke Singapura biar puas dan gak cape. April dapat ticket, masih ada waktu 2 bulan untuk siap2. Pemberangkatan mengambil ticket paling pagi agar sampai di Kualalumpur masih punya waktu untuk city tour.

Malam sebelum pemberangkatan pihak air asia menelpon dan mengabarkan untuk check in 3 jam sebelum jadwal. Alasannya menghindari antrian di loket imigrasi. Okelah kalau begitu.... Jam 3.00 subuh kami saudah berangkat dari rumah. Jalanan yang sepi membuat waktu tempuh dapat disingkat, biasanya tak kurang menghabiskan 60 menit, pagi itu hanya butuh 30 menit sudah turun di Terminan 2 Bandara Soekarno Hatta.

Anak-anak sarapan pagi dulu di bandara. Beruntung banyak restaurant siap saji. Murahnya Air Asia salah satunya adalah tidak disajikannya makanan ringan lebih-lebih makanan berat selama penerbangan. Namun jangan khawatir kelaparan, air crew akan jualan berkeliling (sssttt...tapi jangan  bayangin seperti pedagang asong) menawarkan makanan dan cindera mata. Harganya ? tentunya lebih tinggi dari harga normal. Tapi apa mau dikata, beli air mineral wajib daripada tenggorokan kering selama 2 jam penerbangan.

Jam 9 atau jam 10 waktu setempat kami sampai di KLCT (sory kalau keliru), bandara khusus Air Asia. Anak-anak membawa ransel masing-masing dengan isi baju seadanya. Beruntung bawaan gak terlalu berat. Turun dari pesawat gak ada belalai gajah sebagai korider yang menghubungkan pesawat dengan ruang tunggu. Penumpang turun dari tangga dan berjalan kaki menyusuri piggiran landasan. Oi.... matahari lumayan menyengat. Tapi karena anak-anak exited banget bisa nyampe di Kualalumpur tak sedikitpun keluar keluhan. Turun mengikuti iring2an penumpang lain, kami belagak ngerti, belagak ”ngota” biar gak kelihat udik. Masih di dalam pelataran ruang tunggu, dah ada yang teriak dari sebuah konter kecil. Ternyata menawarkan ticket bis dengan route yang berbeda. Kami berunding sebentar dan memutuskan naik bis tujuannya ke KL Centre. Ticket cukup murah hanya 8 RM per orang, dikali Rp. 2.500 kena Rp. 20.000. Sebenarnya sebanding dengan bus PPD dari bandara ke Kp Rambutan. Inilah gunanya browsing dan mencari info saat di lokasi tidak terlalu kebingungan karena sudah menyusun rencana dengan seksama.

Bis menuju KL Centre tidak terlalu bagus tapi lumayan nyaman setelah 2 jam terkurung di kursi sempit pesawat. Beberapa penumpang sepertinya turis dari negara Eropa,  tapi ada juga yang bermata sipit. Kami saling menyapa bahwan saling menanarkan permen. Seperti biasa, si Adek memilih duduk dengan ayanya, sementara si kakak memilih duduk dengan saya. Sepanjang jalan menuju KL Centre, mobil masuk tol. Jadi mengingatkan saya pada pemandangan tol jagorawi. Lengang, hanya ada bukit dan disirami terik matahari.
Sampai KL centre kami bertanya dimana tempat menjual ticket bus dan permainan di Genting. Kami diarahkan ke tingkat 2. Pesan ticket 4 plus terusan (waduh lupa berapa harganya, kalau gak salah 40 RM lah). Kami dapat pemberangkatan yang keduan jam 10.30. Sip lah.... berarti hari ini dah mulai bebas.  Tuntas urusan prepare acara ke genting besok, kami cari kedai makan. Ada warung kecil jual nasi lemak dan laksa singapura. Suamiku yang lahir dan besar di tembilahan sangat familiar dengan nasi lemak. Sambil makan suamiku bercerita tentang seringnya membeli nasi lemak di warung depan rumah kalau nenek tak sempat menyiapkan sarapan. Kalau dengar cerita masa kecill ayahnya anak-anak antusias. Si Adek mulai berani jajan sendiri, mini market sebelah jadi sasaran pertamanya. Beli nasi ketan, balik lagi ke kasir minta sendok. ”what’s sendok?” tanyanya, si adek bingung balik nanya harus ngomong apa. Kakaknya bilang spoon. Dengan pede dia bilang ”Cik minta spoon”, kasirnya nyodorin sendok plastik sambil ketawa. ”Oh I see, sendok is spoon”.

Usai makan tinggal cari taksi buat check di Hotel Radius. Oh ya hotelnya dibanti booking sama travel langganan kantor saya. Tapi sepertinya kalau booking hotel mending langsung lebih murah, hanya agak gambling kalau musim liburan bisa gak kebagian kamar. Sebenarnya hotel2 melati di pinggir jalan banyak juga sih, hanya kalau bawa anak kecil kelihatannya tidak cukup aman dan  nyaman. Naik taksi minta 15 RM kami berempat menuju hotel. 
Suamiku menelpon sopir yang mobilnya mau dibooking ke Malaka. Bang heri demikian sopir itu biasa dipanggil.  Bang heri yang berasal dari Sumbar berbaik hati mengajak kami keliling dan memperkenalkan objek wisata di pusat kota. Salah satunya adalah tanah merdeka, sebuah lapangan luas yang dikelilingi bangunan-bangunan kantor yang masih mempertahankan bangunan asli buatan jaman kolonial. Bang heri mengijinkan anak-anak untuk mengambil foto. Puas berkeliling kami langsung diantar ke Hotel Radius. Hotelnya lumayan bagus dan lumayan strategis, karena 100 meter dari hotek sudah tampak mall Bukit Bintang dan Sungai Wang.

Istirahat sejenak,  mandi dan ganti baju, usai shalat dzuhur kami turun ke lobby. Rencananya mau jalan-jalan. Ternyata hujan deras sekali. Yaaa... jadwal berantakan kami hanya duduk di tangga lobby hotel. Ada anak muda yang memperhatikan kami, ternyata mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di UKM dan sedang mengisi waktu libur dengan menjadi guide turis yang datang ke KL. Sedikit berbasa-basai, Febi (nama si anak muda tersebut) menawarkan jasa untuk mengantar. Sayangnya kami sudah terlebih dulu kenal dengan bang Heri. Namun begitu suami saya berinisiatif menanyakan nomor telpon febi agar sewaktu-waktu diperlukan mudah untuk dihubungi. Menunggu hujan kami banyak berbincang dan memperoleh banyak info yang didapat terutama mengenai jalan-jalan di seputar kota.

Dalam rinai hujan, mata kami menangkap sebuah super market di seberang jalan, ternyata namanya 7eleven (kelak anak2ku hobby banget  jajan di Sevel). Mereka sibuk membeli minuman slurpee yang berwana biru. Beberapa hal yang tidak paham mereka tanya ke kasir, sayangnya yang ditanya berasal dari Tibet jadinya bingung deh mau ngomong apa. Untung yang satunya dari Pakistan jadinya sukup ngerti bahasa Inggris. Dinginnya perut sedikit terobati oleh seduhan mie instant.  Tapi anak-anak tak mengeluh, mereka ingat perkataan ayahnya, ketika kita berada di tempat baru semua tempat tanpa kecuali merupakan hal menarik, event sebuat mini market sederhana pun cukup membuat anak-anak senang.
Baru jam 5 sore hujan sedikit reda. Kenadati masih menyisakan gerimis tipis, kami memutuskan untuk jalan ke arah Bukit Bintang.  Ini kedatanganku yang ke 3 jadi cukup diandalkan untuk jadi guide oleh anak-anak xixixi.... masuk Bukit Bintang sebenarnya gak jauh beda masuk ke Melawai Plaza (eh... pusat perbelanjaan ini masih ada gak ya?). Tukang Tissue yang cacat ternyata masih ada di perbatasan mall Bukit Bintang dan Sungai Wang yang memang menyatu. Two Thumbs buat si penjual tissue cacat badan tak menghalanginya untuk berusaha, dia dapat uang tidak semata-mata kasihan tapi karena ada barang yang dijual.

Berkeliling mall, lumayan banyak sale. Baju-baju ABG seharga 25 RM sepertinya banyak diimpor dari Korea (hahaha sok tahu padahal referensinya hanya dari kesamaan model dengan baju yang dipakai artis-artis di Korean Drama). Toko sepatu Vincci paling penuh. Saya sendiri gak terlalu tertarik, beberapa tahun lalu sempat beli agak banyak dan sampai saat ini masih ada yang belum dipakai xixixi...

Seperti biasa anak-anak gak ada yang merengek minta dibelikan baju model ini itu. Pokoknya yang dibelikan ibunya pasti cocok (ini kata mereka !!!).  jam 7 masih terang, bahkan  tak terdengar kumandang adzan maghrib. Kami memutuskan shalat dija’ma (karena sedang dalam bepergian dimungkinkan). Si Adek mulai rewel dan minta makan. Saya ingat jalan Lor yang terkenal sebagai surga makanan malam. Ternyata lokasinya dekat ke hotel, jadi kami kembali ke arah dimana kami berangkat. Ternyata.... menu yang ditawarkan kebanyakan seafood. Menggiurkan sih... tapi itu die, menunya dicampur dengan makanan yang berbahan babi. ”Pak Cik...kami jual makanan halal, mampirlah kemari”, tawar mereka. Iya sih.... tapi bukannya kualinya dipakai juga untuk bikin  steak babi. Oh No.... daripada perut berontak mending balik kanan. Kami putar lagi ke Bukit Bintang karena waktu foto2 di lampu merah persis di sudut jalan ada restauran Mc Donald. Akhirnya kam mendarat di restaurant dengan cat warna orange yang khas. Untungnya ada paket nasi. Jadi perut melayu tak lagi kembung. Hanya.... nasinya sedikit berempah, lumayan cocok (pasti gara-gara kami sering makan nasi kebuli).
Perut dah kenyang, si adek dah berhenti berkicau. Hmmm.... mau dihabiskan kemana ya ? akhirnya kami memilih naik MRT di depat Mall Sungai wang. Tujuan yang dipilih Chowkit. Saya milih tempat ini karena kamera pertama yang saya punya dibeli disini saat saya tugas reportase di tahun 93. Tiap jarak ternyata beda tarif sesuai jarak MRT nya. Nunggu  dengan foto-foto tak membuat bosan. Setelah 2 kali kereta lewat ke arah yang berlawanan,  kami beroleh MRT ke arah tujuan kami. Tak dapat duduk tak apa karena untuk berdiripun cukup nyaman. Tampaknya orang Malaysia sudah terlalu biasa dilalulalangi orang-orang Indonesia jadi mereka tak memperhatikan kami dengan aneh. Nyampe Chowkins ternyata daerahnya dah gelap, mirip jalan hayam wuruk di waktu malam. Wadow... gak cocok buat anak-anak.
Ayah berinisiatif cegat taksi. Tujuannya Gedung Petronas. Dengan tarif 15 RM (katanya macet jadi ongkos naik dari yang biasanya 10 RM). Sepakat.... maka kami berempatpun sudah berpindah duduk di taksi yang disupiri kakaek tionghoa yang berbicara inggris tapi berlogat hokian. Jalan memang macet tapi perjalanan hanya menghabiskan waktu 15 menit.

Wow... anak2 senang lihat menara kembar yang menjulang tinggi. Sengaja kami tak langsung masuk gedung melainkan main di taman di depannya. Dengan berbagai pose (baik yang dipotret maupun yang memotret) berpuluh-puluh gambar diambil untuk mengabadikan menara megah itu dalam posisi yang paling baik. Tepat di ujung undakan ada barisan air mancur, kami berempat berfoto di tengah semburan air dalam balutan cahaya lampu. Ih..... ternyata ulah kami diikutin orang-orang yang tadinya duduk di pinggir taman. Melihat tempat menjadi penuh orang kamipun menyingkir dan bermaksud melanjutkan perjalanan ke dalam gedung. Belum dalam hitungan 10 kaki melangkah seorang petugas security datang dan menghalau orang-orang yang berfoto di tengah ”air joget” itu. Alhamdulillaah kami sudah lolos dan puas mengambil gambar.

Petronas memiliki lobby yang luas. Lenggang karena sudah malam dan tidak ada dan habis jam kerja. Setelah turun melewati 1 eskalator baru deh ada toko-toko di sepanjang lobby bawah. Teuteup.... Vincci diserbu pengunjung, padahal tidak dalam musim diskon. Saya lebih suka cuci mata. Bajunya cukup mahal dan modelnya agak aneh. Langkah dilanjutkan ke belakang gedung, ternyata lebih ramai. Sebuah danau menjadi pemandangan menarik. Beberapa keluarga kecil memilih duduk di pinggirnya bercengrama dengan seluruh anggota keluarga. Ya... as a habbit... kami juga foto-foto dong !!!  Malam makin larut kami memutuskan pulang naik taxi. Berhenti di lobby hotel, anak2 minta beli makanan. Jadilah kembali borong mie instant di toko 7 eleven. Sampai kamar boro-boro di makan, yang ada mata ngantuk, badan cape. Good Night kids.... siapkan tenaga buat besok yaaaa.

Hari ke dua...
Bangun pagi, usai shalat, intip jendela sudah jam 6 tapi tapi  hari masih gelap.  Gak jadi halangan buat memulai aktivitas.  Hari ini rencananya seharian main ke Genting.Turun ke resataurant buat breakfast, karena jatah hanya 3 orang jadi musti bayar tambahan 1 orang sebesar 20 RM.  Jadilah daripada nyari sarapan di luar. Senengnya lihat si adek makan lahap. Makan pagi sebanding dengan makan siang xixixi.... Adek kan anak yang sedang dalam pertumbuhan... kilahnya selalu begitu kalau dilarang makan banyak-banyak.

Niat naik MRT ke KL Centre, tapi pas depan mini market 7Eleven seorang kakek chinese penarik taksi membujuk kami untuk memakai jasanya. Minta 15 RM  untuk mengantar sampai ke KL Centre. Baru duduk bujukan kembali dilancarkan, kali ini kami diajaknya mampir di Butik Coklat. ”Cik tak beli pun tak apa2, kalau I datang bawa penumpang I dapat 5 RM lumayan buat breakfast”, rayunya. Karena waktu masih panjang kamipun setuju.
Nyampe halaman Butik Coklat agak kepagian, bahkan penjaga nyapun masih menyampu halaman. Tapi pelayannya sudah melambaikan tangan mempersilahkan kami masuk. Memilih alakadarnya, membeli yg disuka, anak2 meminta dibelikan beberapa cokklat. Hmm... satu tentenganpun dijinjing pulang. Selesai belanja, Engkoh supir taxi memamerkan uang 5RM sebagai jasa mengantar.  Ternyata bujukan belum usai, kami masih diajaknya juga ke oleh-oleh China. Ya sudahlah... kasihan juga. Pergi ke sana tak terlalu banyak hal menarik, ramuan china itu tak membuat kami merogoh kocek buat membelinya. Tapi beberapa keripik seafood menambah berat tentengan. Tak apa2 juga lah lumayan buat oleh-oleh.

Perjalanan akhirnya dilanjutkan dan langsung menuju KL Centre. Keriuhan sebuah ”terminal” sangat terasa. Lalu lalang orang bergabti kendaraan membuat eskalator yang hanya cukup untuk berdiri 1 orang jadi sempit dan padat. Masih ada waktu sejam kami keliling lobby karena banyak ada stand-stand bazaar. Buat prepare saya beli 1 buah sendal. Duduk di kedai yang kemarin kami makan, si adek pengen makan nasi lemak (padahal rasanya baru 1 jam yang lalu sarapan heboh). Sambil menunggu bocah selesai makan, saya belanja makanan buat di bekal ke Genting (konon menurut info biar sedikit hemat makanan dibawa saja dari KL). Croissant, roti, mie goreng, bakso, sosis, deelel-delel. Begitulah ibu-ibu selalu khawatir anaknya kelaparan.

Kami menunggu bis yang hendak membawa ke Genting. Udaranya panas karena berada di luar area KL Centre. Belum lagi asap buangan dari bis-bis yang berjajar menunggu penumpang. Hampir sejam menunggu bus baru datang dari genting. Penumpang penuh jadi gak bisa terlalu memilih tempat yang strategis. Tapi cukup nyaman untuk menghabiskan perjalanan yang memakan waktu tempuh sekitar sejam.
Menuju Genting seperti menuju puncak. Bedanya puncak penuh dengan pemandangan kebun teh yang asri, sedangkan genting lebih banyak menyusuri jurang-jurang dengan semak belukar. Agak deg-degan juga sih, jalanan kecil dan menanjak, bus agak terengah-engah. Sampai di stasiun cable car kami harus melanjutkan perjanlanan dengan kereta gantung. Di lobby ketemu dengan Febi anak mahasiswa yang sempat ngobrol di lobby hotel kemarin. Ternyata iapun tengah mengantar turis. Stasiun cable car adanya di lantai 2, kami naik lift. Sepanjang perjalanan banyak toko souvenir, yang paling menarik perhatian adalah toko aneka manisan. Oooiiii..... mengundang selera. Suami saya langsung menyeret tangan saya ketika ada gelagat hendak mampir. ”Nanti aja Bund pulangnya”. Oh ya ticket  yang kami beli di KL Centre sudah termasuk ticket cable car dan bus, jadi kami tinggal antri saja. Lumayan panjang antriannya, tapi cable car yang datangpun banyak jadi kerumunan orang segera terangkut.
Wawwwww..... itu adalah teriakan yang menggema saat cable car meluncur lepas dari stasiunnya. Kendaraan itu berayun pelan ke kanan dan kekiri. Si kk sibuk foto sana foto sini, si Adek sibuk memvideokan. Keduanya menikmati pengalaman pertama naik cable car. Di taman mini sih pernah juga naik kereta gantung tapi selain jaraknya pendek, tak ada hal2 yang menyeramkan dalam perjalanan. Sementara disini cable car merayap bahkan menanjak dengan curam ke arah bukit. Nun di bawah sana hutan belukar seperti siap menerkam. Hiiyyy..... semua doa-doa yang saya hapal saya baca dengan seksama, agak takut sih tapi mau gimana lagi.

Hampir 30 menit berayun-ayun di udara, kamipun sampai. Saya menyarankan agar semua main dulu di outdoor karena outdoor waktunya terbatas hanya sampai jam 6 sedangkan indoor bisa sampai jam 12 malam. Langkah kami segera meuju arena outdoor.  5 hotel besar yang ada di Genting tersambung satu sama lain, jadi kami susuri satu2. Cukup jauh sih...tapi tak ada keluhan di anak-anak.
Ternyata arena outdoor tak jauh beda dengan dufan. Hanya barangkali di genting ini dikelola [emerintah dengan baik. Apalagi genting terkenal sebagai tempat lokalisasi perjudian di malaysia. Jadi di beberapa jalan kami banyak menemui casino-casino yang sedang menggelar berbagai macam judi. Anak-anak tidak diperkenankan masuk, jadi sekedar melihat dan ingin tahupun tidak dilakukan. Setelah beli ticket terusan outdoor anak-anak mulai memilih-milih. Beberapa mainan yang terlalu memaci adrenalin saya memilih tidak ikut. Daripada deg-degan mending menunggu di pintu masuk. Senangnya lihat anak-anak menikmati permainan dengan sangat sukacita. Sesekali duduk di tempat yang indah untuk makan-makan. Kami dikejutkan rombongan pemuda, dari bahasanya kami mengira datang dari China. Mereka berlari dari satu arena ke arena lain hanya untuk  mengambil gambar. Semua serba tergopoh-gopoh. Seseorang berteriak melambaikan tangan kepada mereka. Oh tampaknya tour leadernya. Beruntung kami memilih jalan sendiri, wisata ala backpacker sehingga tidak sekemrungsung seperti mereka. Dimana anak-anak senang disitu kami menghabiskan waktu. Menyenangkan melihat mereka gembira dan tertawa. Pengalaman yang sangat berharga dalam hidup mereka.  Untungnya di arena ini disediakan mushola sehingga kami bisa bermain tanpa harus meninggalkan shalat. Jam 6 sore anak-anak masih berminat pada beberapa permainan, tapi ayahnya membujuk untuk melihat-lihat di arena indoor. Kamipun menuju ke dalam hotel First World yang berwarna warni karena indoor letaknya disana. Konon hotel ini memiliki ribuan kamar yang selalu penuh oleh pengunjung. Check innya bisa berjam-jam, sarapan juga bisa heboh. Makanya kami memutuskan untuk tidak menginap di genting dan memilih kembali ke KL dengan cable car terakhir.
Untuk memacu keberanian anak-anak, saya membujuk mereka masuk Scary House, saya sendiri gak berani dan menunggu di luar. Mula-mula hanya berdiri di depan pintu masuk, tapi lama-lama terbirit-birit pergi  ketika ”among tamu”nya yang berdandan ala drakula mulai menaku-nakuti saya. Teriakan histeris terdengar dari luar. Saya sih tenang-tenang saja, selama anak-anak ada dalam pengawasan ayahnya insyaallah semua baik-baik saja. 20 menit kemudian mereka keluar, ternyata si Adek dan KK muncul denganwajah pucat dan tubuh bersimbah peluh. Duh merasa bersalah sudah memaksa mereka, tapi saya memang berharap agar mereka tumbuh jadi anak yang berani tidak seperti saya yang bernyali kecil. Dari Scary House kami lanjut ke Ripley Believe or Not… 

Banyak foto-foto tentang keajaiban yang menimpa manusia. Sayangnya arenanya agak sepi, rasa seram muncul ketika masuk di ruangan koleksi dasi. Ada ribuan dasi di gantung, entahlah hanya bulu kuduk saya agak merinding, apalagi ruangan ditata remang-remang. Kamipun buru-buru keluar.
Saya kembali menjadi guide dan membawa mereka menuju arena bersalju. Ya.... walaupun belum pernah ke eropa salju buatan malaysia di genting inipun jadi lah. Gak boleh motret, tapi kami curi-curi kesempatan seperti yang lainnya. Lumayan dapat beberapa moment. Yang lucu... satu-satunya makanan yang dijual di arena ini adalah Es krim. Hiiyyy udah badan dingin harus makan yang dingin juga. Gak lah...

Puas main di arena salju kami hanya berkeliling arena indoor.  Berfoto di miniatur patung liberty, Menara Eiffel  adalah beberapa angle yang diambil. Sejam sebelum jadwal cable car terakhir kami sudah mulai menuju ke atasiunnya. Kali ini naik kereta gantung tidak sehboh berangkat. Gimana nggak.... pemandangan di bawah gelap banget gak ada yang terlihat. Yang heran... ada satu orang naik di kereta yang menuju atas, apa gak takut yaaa.

Nyampe di stasiun bawah, kami bergegas menuju tempat bis. Tapi melihat toko manisan tetap terpikat. Sedikit belanja manisan mangga, strawberi, dll buat oleh jadilah. Gimana mau nyantai, tokonya saja sudah mau tutup.  

Bis yang akan membawa kami turun belum datang, alhasil ada 30 menit kami menunggu dulu. Begitu datang kami memilih tempat. Tak banyak yang dilihat karena begitu badan mencium jok mobil langsung tidur. Bagus begitu  daripada melihat jurang kiri kanan. Jalanan menurun tentu lebih mengerikan daripada menunanjak. Kebayang kan kalau rem nya blong. Apalagi supir yang bapak tua itu ngobrol dengan seorang penumpang memakai bahsa mandarin yang heboh dan cicit cuit. Namun karena lelah, mereka mau menaikan suara sampai 3 oktaf juga tetap pulas tidur. Alhamdullillaah semua lancar dan aman sampai KL Centre.

Dari KL centre kami naik taksi kembali, berhenti di depan hotel tidak langsung masuk tetapi menuju RM pakistan untuk makan malam. Lumayan murah... makanan rata-rata 6 RM. Ada ayam bakar, nasi goreng, nasi tomyam, capcay, dll. Seberangnya ada mini market namanya Mini carfour....di Indonesia belum ada ya, yang ada Carefour (big)nya saja. Perut kenyang, main puas, eng ing eng.... kami berempat segera menuju kamar hotel. Mandi, shalat terakhir tidur lagi deh.... ayo semua tidur karena besok kita akan ke Malaka. Dan anak-anakpun menurut dengan takzim....

Hari ke 3
Jam 5 kami sedah bangun kembali. Shalat, mandi terus sarapan. Bang Heri hari ini bertugas mengantar kami ke Malaka. Mobil Grand Livina yang akan membawa keliling Malaka sudah terparkir di Lobby. Sarapan hanya memakan waktu 30 menit, selanjutnya kami semua sudah duduk manis di mobil Bang Heri.
Menuju Malaka seroute dengan jalan menuju Singapura. Malaka adalah negara bagian dari 13 negara bagian yang dimili Malaysia. Hanya butuh waktu kurang dari 2 jam kami sudah masuk wilayah malaka. Di gerbang masuk kota yang bertetangga dengan kepulauan Riau (Indonesia) kami diajak ke taman mininya malaysia. Ticketnya (mahal) 30 RM, bandingkan dengan TMII yang hanya mengutuf Rp. 9.000. Isinya ? waduh...menurut saya pas2an banget, hanya ada 3 rumah ada dari 13 negara bagian di malaysia. 
Bandingkan dengan TMII yang lebih luas, lebih banyak, lebih kaya budaya. Satu2nya kekurangan TMII adalah tidak dikelola dengan baik. Malaysia semua serba terbatas tapi ”marketingnya” luar biasa sehingga orang tertarik untuk mendatanginya. Tapi tetep aja namanya turis, kita musti keliling dong. Propinsi Serawak dan Kucing lebih kental dengan budaya Dayak milik kita (jangan2 ntra di klaim juga bahwa dayak merupakan budaya malaysia xixixi). Selebihnya lebih kemelayu-melayuan serupa Sumatera Barat dan Riau.
Untuk berkeliling hanya butuh waktu 30 menit. Si Kaka yang baru bangun setelah tertidur sepanjang perjalanan lebih sering memasang muka bete dan bilang taman mini lebih bagus.

Statdhuy – Red Building adalah lokasi wisata yang terkenal di Malaka. Inilah bangunan Belanda tertua di Asia tenggara dan satu-satunya peninggalan Belanda di kota ini. Dulu ini adalah rumah Gubernur Belanda sehingga arsitektur Belandanya. Ada sebuah area di mana gedungnya semua berwarna merah. Konon dulu ada serdadu Inggris yang mabuk dan mencat bangunan di sepanjang jalan itu berwarna merah.
Baba dan Nyonya museum heritage adalah museum peranakan yang unik di Melaka.  Museum ini didirikan oleh Babas dan Nyonyas yang ada di Melaka. Peranakan adalah suku percampuran antara suku melayu dan chinese sehingga para keturunan peranakan ini memiliki kultur yang unik karena meruapakan percampuran antara kedua kultur.
Kami menuju Museum Cheng Ho yang dibangun untuk memperingati seorang  laksamana bernama Cheng Ho atau Zheng He yang hidup sewaktu zaman dinasti Ming di China. Pengembara terkenal ini telah menjalankan tujuh pelayaran pengembaraan di antara tahun 1405 dan 1433 dan meninggalkan jejaknya di Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara. Di depannya ada Menara taming sari. Namun anak-anak tidak tertarik menaikinya karena matahari sedang berada di puncaknya. Sinarnya langsung menyorot penumpang menara yang diturunnaikan dengan begitu rupa.

Terakhir tentu saja kami mencari oleh-oleh. Ingat pengalaman dahulu, saya kembali mencari udang kecil yang dibotol, oleh-oleh khas Malaka. Selanjutnya mencari foodcourt karena perut sudah minta diisi. Di Malaka kudu hati-hati, makanan halal dan haram seringkali sudah dibedakan. Harus sering bertanya, harus hati-hati sebelum memilih.

Jam 14.00 kami meninggalkan Malaka dan sebelumnya mengitari pelabuhannya dahulu. Bang Heri menunjukkan beberapa rumah sakit yang penuh dikunjungi pasien dari Indonesia. Konon untuk pasien yang melakukan perjalanan melalui laut pihak rumah sakit sudah menjemput sejak dari pelabuhan. Konon biayanya tidak terlalu mahal dan tersedia dokter-dokter ahli bertangan dingin. Sebelum melanjutkan perjalanan kami mencari masjid untuk sekedar shalat Dzuhur plus Ashar (ja’ma).

Sebelum kembali mencapai Kualalumpur, kami mengagendakan untuk mampir di Putrajaya, pusat pemerintahan Malaysia. Hmm... jadi teringat Indonesia kembali yang pernah mewacanakan Jonggol sebagai pusat pemerintahan seperti Putrajaya. Ternya sampai sekian tahun tidak terealisasi. Yang ada wacana makin menjauh pusat pemerintah diusulkan pindah ke Palangkaraya.

Putra jaya memang keren. Semua gedung pemerintahan ada di kawasan ini. Pusatnya ada di sampung sebuah danau dengan pemandangan indah. Ada mesjid yang megah, setiap perempuan yang akan shalat diberikan baju kaffah seperti pakaian maroko yang bertopi. Lucu banget...

Tapi sayang...di Putrajaya sedang digelar semacam acara Pekan Olah raga nasional. Jadi kami ak bisa memasuki arena, padahal kami ingin menikmati setiap jalan yang dirancang dengan menggunakan lampu jalan berbeda. Katanya meniru sebuah kota di Australia.... sttt... lagi-lagi meniru... bentar lagi mengklaim... namun tidak berarti tak ada yang bisa kami lihat. Bang heri membawa kami ke bangunan Istana Sultan/Raja Malaysia... istananya besar (tapi tetep lebih besar dari yang ada di Indonesia). Bangunannya sepi, karena memang jarang dihuni. Cutrak..cetrek... kami mengambil gambar setelah puas kamipun pulang.
Sebelum  menuju hotel saya meminta untuk mencari tempat guna berbelanja oleh-oleh. Tujuan pertama adalah Petaling. Daerah pecinan yang lebih mirip kawasan pasar baru.  Sepanjang jalan banyak toko-toko. Tapi lebih padat  karena yang ngegelar dagangan di tengah jalan lebih banyak lagi. Sempat beli tas buat ayahnya anak-anak. Selebihnya saya berpikir produk Indonseia jauh lebih bagus-bagus.
Melihat kami tidak ada yang dibeli, bang heri berinisiatif membawa ke central market. Ini baru... tempat oleh-oleh. Makanan khas dan kerajinan menjadi pemandangan yang menarik. Sayapun sibuk memilih beberapa cinderamata yang terjangkau. Anak-anak sibuk mencari oleh-oleh buat teman-temannya. Puas sudah, harganya di bawah harga pasar. Menjelang magrib kami sudah diantar ke hotel.

Malam itu kami hanya keliling seputar hotel. Lagi-lagi tujuannya mall Bukit Bintang dan Sungai Wang.  Puas borong baju dan tas murah. Kami kembali ke hotel. Malamnya barang di pak karena minggu subuh dah dijemput untuk ke bandara. Kali ini suami saya meminta Febi (yang anak mahasiswa itu) mengantar ke Bandara. Dasar mahasiswa... untuk ngirit ongkos kami diajak jalan tikus, cepat sih tapi agak ngeri aja karena sepi. Tapi febi meyakinkan bahwa itu area kampusnya jadi dia sudah cukup familier. Kami diajak memakai mobil kancil Sempit sih.... tapi cukuplah menampung kami berempat. Febi hanya menarik ongkos 100 RM untuk sampai di KLCT. Dan dengan janji kalau ke Kualalumpur akan menghubungi Febi, berakhir sudah perjalanan backpaker kami di negeri jiran. Selamat tinggal, semoga bertemu di penerbangan perikutnya (xixixi niru ucapan pramugari Ais Asia). Ya... semoga asal ticketnya murah... 




4 komentar:

honey-bee mengatakan...

hi mbak
salam kenal ya
bisa dapt info ttg bang heri yang nganterin mbak sekeluarga itu ga ya?

Erni Purnamawati mengatakan...

Ntar aku cari dulu mbak, tapi enakan dengan Febi. Ndilalah di singapura saya ketemu dia lagi antar orang indonesia. Dunia emang sempit, dia mahasiswa yang memang nyari tambahan jadi guide

dian arius mengatakan...

mbak minta nomernya febi bolehkah?

dian arius mengatakan...

mbak..minta nomer hapenya febi doong makasi

Posting Komentar