Rabu, 01 Desember 2010

Kecerdasan Emosional

Seorang ibu, pebisnis, bercerita dengan sedih saat mengikuti kursus kecerdasan emosional kami di Jakarta. "Pak Anthony, saya merasa ngeri dengan anak saya sendiri". "Mengapa? Memangnya, anak Anda kayak monster?"

Si ibu itu tersenyum getir dan menjawab, "Bukan begitu, Pak. Begini. Awalnya saya dan suami begitu bersyukur karena anak saya sangat pintar dan sangat cepat menangkap apa pun yang diajarkan.


Namun sekarang, saya mulai takut karena dia lebih senang di rumah, dan tidak mau ke manapun." Saya pun menyela, "Lho, sementara banyak orangtua bingung karena anaknya keluyuran melulu, malahan Anda bingung dengan anak Anda yang di rumah melulu".
Si ibu itu pun menyela, "Iya ya Pak. Jadi serba- salah. Anak keluyuran, bingung. Akan tetapi kebanyakan di rumah, juga bingung. Namun, masalah saya lebih dari itu. Saya lihat anak saya ini agak anti-sosial.
Dia sama sekali tidak mau bermain. Misalkan kalau sepupunya datang. Malahan dicuekin. Di sekolah pun, gurunya pernah prihatin karena anak saya cenderung egois. Saya lihat semua mainannya dan hobinya yang jenis solitair, yang main sendirian. Apakah anak saya nggak mengalami gangguan?


Pada kejadian yang lain, seorang bapak merasa sedih dengan anak remajanya. Pasalnya, putranya ini mengambil uang sekolah untuk dipakai traktir teman-teman dan pacarnya. Enam bulan uang sekolah tidak disetorkan ke sekolah, tetapi dipakainya sendiri.
Selama ini, anak ini berpikir bisa berkelit dengan berbagai alasan hingga akhirnya sekolah menagih kepada si bapak tersebut yang terkaget-kaget. Masalahnya, si bapak tersebut merasa sudah memberikan uang sekolah tersebut lewat anaknya.
Saat dikonfirmasi, si anak remaja itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Si bapak ini begitu kecewa, bagaimana anak yang tergolong pintar ini bisa begitu konyol berpikir bahwa tidak akan ketahuan dengan apa yang dilakukannya?

Kecerdasan emosional


Menjelang camp inspirasional kecerdasan emosional bagi kaum muda yang akan kami adakan pada musim liburan Juli tahun ini, kami menerima banyak sekali e-mail sejenis di atas yang menanyakan langkah-langkah penanganan bagi para remaja.
Ada orangtua yang begitu bingungnya, sampai-sampai tidak tahu lagi apa yang mesti mereka lakukan dengan anak mereka. Sebagian berharap dengan mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, anak mereka bisa berubah.


Memang, kita tidak berharap bahwa anak-anak remaja bisa berubah dalam sekejab setelah pelatihan beberapa hari. Namun, optimistisnya, setelah dibekali dengan berbagai metode dan cara, para remaja menjadi lebih siap memahami dirinya dan berhadapan dengan dunia luar.


Itulah sebabnya, dalam berbagai pelatihan dan workshop kecerdasan emosional bagi para remaja, penekanannya dilakukan pada empat tangga yang penting untuk membangun kecerdasan emosional para remaja dengan model EQM yang saya kembangkan kita yakni Awareness, Acceptance, Affection, dan Affirmation.

Emotional awareness


Sebenarnya, saat ini ada banyak sekali alat-alat assessment psikologis yang bisa dipakai sebagai alat bantu potret diri untuk para remaja kita. Dari hasil potret ini, dapat dibicarakan mengenai perilaku serta kebiasaan mereka.


Seperti pada kasus pertama yang digambarkan di atas, bisa jadi anak tersebut sebenarnya tergolong introvert dan sebenarnya tidaklah keliru amat kalau bisa diarahkan.
Toh Bill Gates yang terkenal pun, dikatakan awalnya adalah pribadi yang intorvert. Hanya saja, para remaja ini perlu didampingi untuk mengarahkan perilaku mereka sehingga tidak berkembang menjadi antisosial.


Perlu seseorang dewasa yang bisa menjadi pegangannya, meski awalnya adalah penolakan dari remaja itu. Misalkan saja seorang bapak bahwa "Kini, anak remaja saya seolah-olah tidak membutuhkan saya lagi". Akan tetapi kenyataannya justru menunjukkan bahwa anaknya sebenarnya berpendapat lain. "Kami memang ingin independen, tapi kami sadar, justru kami haus untuk didampingi".


Pendampingan yang juga penting di bagian awareness ini adalah orang tua mengajarkan mengenai pilihan serta konsekuensinya. Para remaja perlu belajar mengenai prinsip 'mengangkat ujung tongkat yang lain'.


Prinsip ini pernah diucapkan oleh Stephen R. Covey bahwa, "Kita bisa memilih mau mengangkat tongkat yang mana pun. Namun setelah memilihnya, kita tidak bisa mencegah bahwa selalu ada ujung lain dari tongkat yang akan ikut terangkat".
Bahasa sederhananya, kita bisa membuat pilihan, tetapi setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Seperti pada kasus kita, si remaja bisa memilih untuk tidak membayarkan uang sekolahnya, tetapi akhirnya dia akan berhadapan dengan suatu konsekuensi.


Konsekuensinya adalah ketahuan dan mungkin dihukum berat. Begitu pun pada saat remaja ditawarkan pada pilihan seperti alkohol, narkoba, dll. Mereka perlu dibekali bahwa mereka memiliki kekuatan pada saat 'memilih', tetapi mereka tidak bisa lagi mencegah adanya konsekuensi pada saat pilihan sudah dijatuhkan. Inilah hukum alam. Celakanya, banyak rekan muda kita ini terlalu berpikir 'kesenangan sesaat' dan lupa akan adanya konsekuensi-konsekuensi.

Emotional acceptance


Krisis identitas terbesar pada kaum remaja adalah tatkala mereka merasa kurang oke dengan dirinya dan mulai banyak membanding-bandingkan dengan orang lain. Itulah sebabnya, dikatakan oleh hasil survei bahwa kebanyakan fan yang menggandrungi pemusik atau artis/aktor biasanya berada pada usia-usia ini.


Intinya, di tahapan ini banyak kaum muda yang setelah menyadari hidupnya, justru merasa kurang oke. Mereka mengadopsi identitas. Bayangkan kalau identitas yang diadopsi ini keliru! Itulah sebabnya, di tahapan ini pelajaran terpenting bagi remaja adalah berdamai serta menerima diri mereka.


Pelajaran self esteem (harga diri) adalah dasar dari membangun potensi mereka. Sebenarnya, kalau self esteem mereka bisa dipupuk sejak awal, potensi mereka juga akan keluar lebih cepat!

Emotional affection


Pelajaran menjadi mandiri, memang penting bagi para remaja kita. Namun, terlalu mandiri juga akan menjerumuskan mereka menjadi individu yang terlalu egois serta tidak peduli dengan orang lain.


Karena itulah, semakin cepat mereka menyadari pentingnya networking, semakin cepat remaja ini bisa membangun pondasi interpersonal skills yang akan berguna kelak pada masa depannya.


Membangun 'affection' adalah penting dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang bersinggungan dengan orang lain. Sebenarnya, di sinilah dasar-dasar kepemimpinan tehadap orang lain dipupuk sejak dini.


Pelajaran bergesekan, dan konflik dengan orang lain adalah pelajaran-pelajaran penting yang berguna bagi para remaja. Saat mereka mampu mengatasi konflik, masalah dengan orang lain, akan memupuk keyakinan diri yang semakin tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain.


Seorang remaja 'tercerahkan' menggambarkan dengan bagus dalam diarynya tatkala ia mengatakan, "Awalnya aku merasa tidak terlalu butuh orang lain. Aku pikir aku bisa usahakan semua sendirian. Tapi, aku ternyata bisa belajar banyak dari teman-temanku, terutama bisa saling tukar informasi. Sebenarnya, asyik juga punya teman yang sejalan. Tidak semua teman menjerumuskan kok, asal bisa pilih teman".

Emotional affirmation


Pada bagian terakhir ini, remaja belajar untuk bisa membangun dan menyemangati dirinya tatkala jatuh, berproblem dan gagal. Sangatlah penting bahwa remaja berlatih untuk mengarahkan energi kehidupan yang positif. Jika tidak, energi tersebut bisa dipakai untuk merugikan dirinya sendiri ataupun dengan merugikan orang lain.


Berbagai kasus penembakan oleh remaja di Amerika adalah contoh pengarahan energi yang keliru. Sebenarnya, untuk pengarahan energi ini dimulai dari hal yang sederhana yakni self talk yang terjadi pada diri internal remaja ini saat mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Di sinilah, pentingnya kaum muda kita didampingi untuk belajar membuat self talk alternatif yang positif!


Akhirnya, sebagai orangtua yang sibuk, mestinya kita semakin menyadari bahwa kenakalan para remaja kita sebenarnya adalah upaya teriakan minta tolong dari remaja untuk didampingi!

Sebuah Kisah

 Alkisah ada seorang pemuda. Dia mempunyai karakter lepas dan jujur. Sedikit sekali dia punya prasangka buruk pada orang lain. Pada suatu saat pemuda ini tergeletak di rumah sakit karena terlibat perkelahian. Tidak ada yang menjenguknya kecuali kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Pemuda ini berpesan sama kedua orang tuanya jangan sampai teman2 nya tau keberadaannya di rumah sakit. Tapi ada seorang teman memergoki kedua orang tua si pemuda itu di rumah sakit, lalu teman itu bertanya, "siapa yang sakit pak?". Lalu terpaksa orang tua pemuda tadi berkata apa adanya. Lalu si teman tadi terlihat bermuka merah lalu balik pulang ke rumah.

Setelah si pemuda sembuh, dia mengunjungi salah satu temannya. yg pernah memergoki orang tuanya di rumah sakit. Tiba-tiba si teman itu berkata, "Kamu itu egois, ada masalah kamu diem saja. Aku sudah bilang sama semuanya, sekarang tinggal nunggu keputusan kamu. Detik ini juga kamu bilang mati .. matilah mereka. Semua sudah siap, sudah kami atur."

Lalu si pemuda tadi menjawab "Gak usah seperti itu .. biarkan saja .. biar aku yang pergi jauh dari sini".

Lalu teman tadi berkata lagi pada pemuda itu, " Kebiasaanmu tuh suka gitu. Dari dulu kamu selalu begitu. Dasar egois! "

Lalu si pemuda menjawab, " Sudahlah.. tarik semuanya. Kalo cuma melubangi kepalanya saja aku sendiri juga bisa. Aku cuman ingin pergi dulu .. sepertinya ada sesuatu yang lebih penting daripada ini semua."

Lalu beberapa minggu kemudian ......

Pemuda sudah berada di bandara. Ada sms masuk pada pemuda tadi.

"Selamat jalan nak. Sebenarnya aku melatihmu itu supaya kamu jadi orang kejam. Tapi ternyata malah nuranimu semakin terasah. Selamat jalan."

Malas....











Kenapa ?

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita berciuman ?
Hal hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat

Ada hal hal yang tidak ingin kita lepaskan
dan ada orang orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia
melainkan awal dari kehidupan yang baru

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba

Karena merekalah yang bisa menghargai
Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka

Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli
terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya
dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih
bisa tersenyum
sambil berkata , ” Aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam
bebas lagi
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..

Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan
menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah
kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu

Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, ” Aku lupa ”
Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, ”
Tunggu sebentar ”
Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu
ketika kamu berkata, ” Tinggalkan aku sendiri ”

Saat kamu berkata untuk meninggalkannya,
Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat,
Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri,
Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu
Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air
mata

Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati
daripada air mata yang keluar dari mata kita
Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus,
Sementara air mata yang tersembunyi,
Akan menggoreskan luka di dalam hatimu
yang bekasnya tidak akan pernah hilang

Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus…
meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah,
Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia
sewaktu kamu dapat mencintai seseorang
Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri…

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu…
Fight for your dream !
Itulah cinta yang sejati..
Bukannya seperti prinsip ” Easy come.. Easy go… ”

Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang ” yang tersedia ”
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada orang yang berada di ” sekelilingmu ”

Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat
Untuk dibuang dengan hanya ” seseorang ”
Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling
menyakiti hatimu
Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya
Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya
Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat berupa kebenaran ataupun kebohongan untuk menutupi isi hati
Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita
Tetapi isi hati kita yang sebenarnya tidak akan dapat dipungkiri

Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu..
Tataplah matamu di cermin dan lihatlah kepada matamu
Dari situ akan terpancar seluruh isi hatimu
Dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana
__________________
 (dari seorang netter)

Jangan menunda


Sebuah kisah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah
rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi
segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama
menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati

ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan
suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah
satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan
menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan
sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat
berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan
kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun
yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar
saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita
jemput nenek di kampung".

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan
kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan
aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa
diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih
paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi
diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan
baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali
menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak
tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya,
buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku
menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar
membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira".
Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa:
"Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang
sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya
berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu
mencibir sambil menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa
pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa.
Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.

Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu
bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat
laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi
menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang
anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.
Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja
seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian
dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat
badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku
dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang
juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi
semakin repot, misalnya: dia suka menyimpan semua kantong-kantong
bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah
rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana
terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan
cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu
mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari,
nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia
segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis.

Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang
bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak
perduli.
Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot
sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan
dengan piring itu bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama,
suasana menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu
harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku
masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan
menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di
wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar
mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan
berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu
membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur,
suami berkata:"Luci, apakah kamu merasa masakan ibu tidak
enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?"
sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg
mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata:
"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap
pagi". Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba
canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba
ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi
perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar
mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut.
Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu
kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar
sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan
bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata.
Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan
suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan
menjauh…… suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga
meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di
rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah
kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan
ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat
menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya
kamu periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang
hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah
berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan
nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai
sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak
bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin
segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya.
Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi,
pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku.
Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera
memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan
segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya
tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi.....
mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir
dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa
tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku
menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang
membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah
berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya.
Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti
tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah
memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik,
dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan
uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya
membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini
dan pergi mencarinya di kantornya. Di kantornya aku bertemu
dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya
pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang
berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju
rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal.

Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang
jasad nenek yg terbujur kaku..
Sambil menangis aku menjerit
dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur
sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh
dengan kebencian.

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu
nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke
kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari
makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan
kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan
kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,
jika .......... dimatanya, akulah penyebab kematian nenek. 

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan
badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol.
Aku merasa
bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku
ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga
memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak.
Tetapi
melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.
Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku.
Waktu berlalu dengan sangat lambat.

Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.
Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.


Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui
keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku
dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang
gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah
terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil
menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata
apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa.
Sang gadis
melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi
dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar
mata yg tidak kalah tajam dariku.
Suara detak jantungku terasa
sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.

Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika
tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku
apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih
kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke
rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari
seperti bekas dibongkar.
Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku
tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu
keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi ......
semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang
diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check
kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman
menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti
orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung
sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang
tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas
diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. Dua
bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil
membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar,
aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan
pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri
sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit
sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia
memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi,
aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Lusi,
kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia
berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg

mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi
tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam
keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia
membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus
lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu,
banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:
"Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk
memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu
tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada
sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat
kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu
tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku
bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin
bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pemberian dia,
tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara
lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku
padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku
segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar
nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar
nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari
dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura
sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia
lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........
itu adalah dulu, saat cintaku masih membara,
sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara suamiku
mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu
membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak
dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk
sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia
mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa
dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu
terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi
tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku.
Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit
dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari
masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah
yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari
taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan
erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.

Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin.
Di tubuhnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam
dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian
rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan
penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil
menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari
ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh
dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang
tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum
dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris
memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya……
aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air
matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak
pernah merasakan sesakit seperti saat ini. Kata dokter, kanker
hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan
sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya
kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter,
bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi
peduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke
kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa
adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah
surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan
kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan,
sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu
dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan
kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu
tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam
komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap
segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh
mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini,
ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah
sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia
adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling
ayah cintai".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP,
SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia
juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu
adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini.
Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang
penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh
karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat
ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu
padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan
untuk memberikannya pada anak kita.. Pada bungkusan hadiah
tertulis semua tahun pemberian padanya".

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku
menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil
berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak
kita.
Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan
ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum...
....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg
mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu
aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di
tangan sambil berurai air mata ...........

moral of the story: jika kita memiliki ganjalan hati, segeralah selesaikan
jangan menunggu waktu yg akan menyelesaikannya dengan sendirinya
 






Pulau Tak Berpenghuni

Devon island, Kanada
Pulau ini lebih berupa "pulau padang pasir". Meskipun demikian, Devon Island tetap merupakan pulau di dunia 27 terbesar dan pulau tak berpenghuni terbesar di planet ini. Terletak di kepulauan Arktik Kanada barat laut Pulau Baffin, Pulau Devon memiliki luas 21.331 mil persegi (55.247 km ²).
Iklim brutal dingin kering telah membuat Pulau Devon wilayah pengujian yang sempurna untuk peneliti kehidupan masa depan di Mars. Ini bukan jenis tempat untuk hidup nyaman, dan akan membuat manusia kesulitan dalam banyak hal.
Maladewa
Kepulauan Maladewa adalah potret sebuah negara kepulauan, yang mencakup sekitar 1.190 pulau individu yang dibagi 5 sampai 10 pulau berpenghuni dan 20 sampai 60 yang tidak berpenghuni. Situasi unik geografi memungkinkan pengusaha di pulau-pulau berpenghuni untuk memberikan "liburan pulau terpencil" untuk wisatawan asing mencari untuk hidup sementara.


Aldabra
Pulau Aldabra adalah pulau karang terbesar kedua di dunia dengan total luas 60 mil persegi (155,4 km ²), dibagi menjadi empat pulau. Aldabra telah dikenal umat manusia selama berabad-abad, dimana namanya berasal dari bahasa Arab. Kelompok pulau ini terletak 265 mil (426,5 km) barat laut Madagaskar. Ibukota pulau ini, Mahé, ter lebiletak lebihh dari 700 mil (1,126.5 km) di timur. Sampai saat ini masih menjadi misteri mengapa Aldabra belum mampu mendukung bahkan pemukiman manusia kecil.

Pulau Aldabra adalah habitat salah satu kura-kura terbesar di dunia - sekitar 150.000 Kura-kura raksasa Aldabra (Dipsochelys dussumieri) berkeliaran bebas di sana. . Aldabra juga rumah bagi kepiting tanah terbesar di dunia, Kepiting Kelapa (Birgus latro).

Tetepare, Solomon.
Dikenal sebagai "pulau liar terakhir", Pulau Tetepare di Kepulauan Solomon telah tidak berpenghuni sejak pertengahan abad ke-19 ketika anggota suku asli melarikan diri ke pulau-pulau sekitarnya karena adanya ancaman meningkat dari headhunter. Pulau ini luasnya 45,5 mil persegi (118 km ²) dan merupakan pulau tak berpenghuni terbesar di kawasan barat Samudera Pasifik.
Pulau Tetepare telah dipantau sejak tahun 2002 oleh Tetepare Descendants Association (TDA), sebuah organisasi amal yang bertujuan untuk melestarikan pulau dari ilegal logging dan eksploitasi sumber daya lainnya untuk kepentingan generasi mendatang.

Rock Island, Palau
Pulau ini terkenal karena menjadi tempat shooting dari musim kesepuluh reality show Amerika "Survivor" pada awal tahun 2005. Rock Island (disebut Chelbacheb dalam bahasa Palauan asli) memiliki luas lahan total hanya 18 persegi mil (47 km ²) Pulau ini memiliki keanekaragaman ekologi.
Tempat yang indah dan subur ini mungkin tak berpenghuni hari ini tetapi tampaknya dulu sempat ada kehidupan manusia di sini. Salah satu contoh yang paling menarik adalah penemuan sisa-sisa kerangka "orang kecil".


Cocos Island, Kosta rika
Cocos Island terletak Galapagos utara, terhampar di Samudera Pasifik sekitar 340 mil (550 km) di lepas pantai barat Kosta Rika. Pulau seluas kira-kira 9,2 mil persegi (23,85 km ²) ini merupakan habitat dari rusa, babi, kucing, dan tikus. Perairan sekitar Cocos Island kaya akan oasis kehidupan laut.
Penulis Michael Crichton yang didasarkan dari novelnya Isla Nublar (dan kemudian film dan game) Jurassic Park di Pulau Cocos, menduga bahwa "Isla Nublar" adalah bahasa Spanyol untuk Pulau Berawan dan Cocos Island adalah satu-satunya pulau dekat Tengah atau Amerika Selatan dengan ekosistem hutan yang luas.

Mu Ko Ang Thong, Thailand
Mu Ko Ang Thong National Park (didirikan 1980) terdiri dari 42 pulau-pulau di Teluk Thailand. Meskipun taman secara keseluruhan meliputi 39,5 mil persegi (102 km ²), hanya 7 mil persegi (18 km ²) adalah lahan kering. "Ang Thong" berarti "Bowl of Gold", dan pulau-pulau menikmati cuaca yang hangat dan sinar matahari melimpah yang telah membuat kawasan wisata di provinsi Thailand Surat Thani begitu populer.
Pulau-pulau Mu Ko Ang Thong adalah lokasi dari The Beach dalam novel Alex Garland 1996 dan film 2000 dengan nama yang sama, dibintangi Leonardo DiCaprio.

Never Give Up

Sejumlah sejarahwan yakin, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika beliau berpidato di wisuda Universitas Oxford. Churchill mempersiapkan pidato ini selama berjam-jam. Dan ketika saat pidatonya tiba, Churchill hanya mengucapkan tiga kata : ‘never give up’ (jangan pernah berhenti).

Sejenak saya merasa ini biasa-biasa saja. Tetapi ketika ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana saya bisa berpresentasi di depan publik dengan cara yang demikian menguasai, saya teringat lagi pidato Churchill ini.

Banyak orang berfikir kalau saya bisa berbicara di depan publik seperti sekarang sudah sejak awal. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul dan minder.

Dan ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal ‘T’ yang tidak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya.

Tidak bisa tidur beberapa minggu, stress atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh murid dianjurkan agar saya dipecat saja menjadi dosen di tempat saya mengajar.

Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh banyak agen asuransi jempolan. Ditolak, dibanting pintu, dihina, dicurigai orang, sampai dengan dilecehkan mungkin sudah kebal. Pejuang kemanusiaan seperti Nelson Mandela dan Kim Dae Jung juga demikian. Tabungan kesulitan yang mereka miliki demikian menggunung. Dari dipenjara,hampir dibunuh, disiksa, dikencingin, tetapi toh tidak berhenti berjuang.

Apa yang ada di balik semua pengalaman ini, rupanya di balik sikap ulet untuk tidak pernah berhenti ini, sering bersembunyi banyak kesempurnaan hidup. Mirip dengan air yang menetesi batu yang sama berulang-ulang, hanya karena sikap tidak pernah berhentilah yang membuat batu berlobang.

Besi hanya menjadi pisau setelah ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar api panas ratusan derajat celsius. Pohon beringin besar yang berumur ratusan tahun, berhasil melewati ribuan angin ribut, jutaan hujan, dan berbagai godaan yang meruntuhkan.

Di satu kesempatan di awal Juni 1999, sambil menemani istri dan anak-anak, saya sempat makan malam di salah satu restoran di depan hotel Hyatt Sanur Bali. Yang membuat kejadian ini demikian terkenang, karena di restoran ini saya dan istri bertemu dengan seorang penyanyi penghibur yang demikian menghibur.

Pria dengan wajah biasa-biasa ini, hanya memainkan musik dan bernyanyi seorang diri. Modalnya, hanya sebuah gitar dan sebuah organ. Akan tetapi, ramuan musik yang dihasilkan demikian mengagumkan. Saya dan istri telah masuk banyak restoran dan kafe. Namun, ramuan musik yang dihadirkan penyanyi dan pemusik solo ini demikian menyentuh. Hampir setiap lagu yang ia nyanyikan mengundang kagum saya, istri dan banyak turis lainnya.

Rasanya susah sekali melupakan kenangan manis bersama penyanyi ini. Sejumlah uang tip serta ucapan terimakasih saya yang dalam, tampaknya belum cukup untuk membayar keterhiburan saya dan istri.

Di satu kesempatan menginap di salah satu guest house Caltex Pacific Indonesia di Pekan Baru, sekali lagi saya bertemu seorang manusia mengagumkan. House boy (baca : pembantu) yang bertanggungjawab terhadap guest house yang saya tempati demikian menyentuh hati saya. Setiap gerakan kerjanya dilakukan sambil bersiul. Atau setidaknya sambil bergembira dan tersenyum kecil.

Hampir semua hal yang ada di kepala, tanpa perlu diterjemahkan ke dalam perintah, ia laksanakan dengan sempurna. Purwanto, demikian nama pegawai kecil ini, melakoni profesinya dengan tanpa keluhan.

Bedanya penyanyi Sanur di atas serta Purwanto dengan manusia kebanyakan, semakin lama dan semakin rutinnya pekerjaan dilakukan, ia tidak diikuti oleh kebosanan yang kemudian disertai oleh keinginan untuk berhenti.

Ketika timbul rasa bosan dalam mengajar, ada godaan politicking kotor di kantor yang diikuti keinginan ego untuk berhenti, atau jenuh menulis, saya malu dengan penyanyi Sanur dan house boy di atas. Di tengah demikian menyesakkannya rutinitas, demikian monotonnya kehidupan, kedua orang di atas, seakan-akan faham betul dengan pidato Winston Churchill : “never give up.”

Anda boleh mengagumi tulisan ini, atau juga mengagumi saya, tetapi Anda sebenarnya lebih layak kagum pada penyanyi Sanur dan house boy di atas. Tanpa banyak teori, tanpa perlu menulis, tanpa perlu menggurui, mereka sedang melaksanakan profesinya dengan prinsip sederhana : “jangan pernah berhenti.”

Saya kerap merasa rendah dan hina di depan manusia seperti penyanyi dan pembantu di atas. Bayangkan, sebagai konsultan, pembicara publik dan direktur sebuah perusahaan swasta, tentu saja saya berada pada status sosial yang lebih tinggi dan berpenghasilan lebih besar dibandingkan mereka. Akan tetapi, mereka memiliki mental “never give up” yang lebih mengagumkan.

Kadang saya sempat berfikir, jangan-jangan tingkatan sosial dan penghasilan yang lebih tinggi, tidak membuat mental “never give up” semakin kuat.

Kalau ini benar, orang-orang bawah seperti pembantu, pedagang bakso, satpam, supir, penyanyi rendahan, dan tukang kebunlah guru-guru sejati kita.

Jangan-jangan pidato inspiratif Winston Churchill - sebagaimana dikutip di awal - justru diperoleh dari guru-guru terakhir.
(sumber : berbagicerita.com)