Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk.Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku,dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.
Hari pertama dia memaku 37 batang dipagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untukmenahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.
Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.
Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata :
"Anakku, kamu sudah berlaku baik,tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar."
"Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka."
"Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya sama perihnya seperti luka fisik."
"Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka."
"Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat."
"Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu."
"Tunjukkanlah kepada teman- temanmu betapa kau menyukai mereka."
Minggu, 21 Juni 2009
Sabtu, 20 Juni 2009
Kotak Penuh Cinta
Satu hari ayah pulang dari kantor dengan membawa 2 gulung kertas kado. Nisa, anaknya yang masih kecil dan manja memohon untuk diberikan 1 gulung bungkus kado berwarna pibk.
”Untuk apa nak?” tanya si ayah.
“Buat bungkus hadiah” jawab si kecil.
“Boleh, ambil buat Nisa satu gulung, tolong jangan dibuang-buang yah”, pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.
Keesokan harinya, pagi-pagi lagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya.
“Yah, Ayah…….. ada hadiah untuk Ayah.”
Si ayah yang masih menggeliat, matanya pun belum lagi terbuka sepenuhnya menjawab, “Sudahlah…. nanti nanti saja.”
Tetapi si kecil pantang menyerah, “Ayah, Ayah, bangun Ayah, dah pagi.”
“Eh… kenapa ganggu ayah… masih terlalu awal lagi untuk ayah bangun.”
Ayah terpandang sebuah bungkusan yang telah dibalut dengan kertas pembungkus yang diberikan semalam.
“Hadiah apa ni?”
“Hadiah hari jadi untuk Ayah. Bukalah Yah, buka sekarang.” Dan si ayah pun membuka bungkusan itu.
Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga.
“Eh.. kenapa kosong?? Tak ada isi di dalamnya. Kan Ayah dah kata jangan buang-buang kertas bungkusan Ayah. Membazir tu”
Si kecil menjawab, “Tidak Yah, kotak ini penuh dengan isi. Tadi kan, Nisa masukkan banyak sekali ciuman untuk Ayah.”
Si ayah merasa terharu, dia mengangkat anaknya. Dipeluk dan diciumnya.
“Puteri, Ayah belum pernah menerima hadiah seindah ini. Ayah akan selalu menyimpan hadiah ini.
Ayah akan bawa kekantor, sekali-kali kalau Ayah kangen dan memerlukan ciuman Nisa, ayah akan akan mengambil satu. Nanti kalau kosong boleh isi lagi kan!”
Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa-apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Ayah begitu antusias dengan “isi” kotak ini, kendati bagi orang lain kotak ini tak berisi apa-apa dan tidak lebih merupakan kotak kosong belaka.
Kosong bagi seseorang boleh dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang boleh dianggap kosong oleh orang lain. KOSONG dan PENUH - kedua-duanya merupakan produk dari “pikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena emberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong. Sebaliknya, bagi yang menginginkan makna, mereka dapat menorehkannya dengan berbagai kisah kehidupan yang penuh warna (ditulis kembali dari berbagai sumber)
”Untuk apa nak?” tanya si ayah.
“Buat bungkus hadiah” jawab si kecil.
“Boleh, ambil buat Nisa satu gulung, tolong jangan dibuang-buang yah”, pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.
Keesokan harinya, pagi-pagi lagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya.
“Yah, Ayah…….. ada hadiah untuk Ayah.”
Si ayah yang masih menggeliat, matanya pun belum lagi terbuka sepenuhnya menjawab, “Sudahlah…. nanti nanti saja.”
Tetapi si kecil pantang menyerah, “Ayah, Ayah, bangun Ayah, dah pagi.”
“Eh… kenapa ganggu ayah… masih terlalu awal lagi untuk ayah bangun.”
Ayah terpandang sebuah bungkusan yang telah dibalut dengan kertas pembungkus yang diberikan semalam.
“Hadiah apa ni?”
“Hadiah hari jadi untuk Ayah. Bukalah Yah, buka sekarang.” Dan si ayah pun membuka bungkusan itu.
Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga.
“Eh.. kenapa kosong?? Tak ada isi di dalamnya. Kan Ayah dah kata jangan buang-buang kertas bungkusan Ayah. Membazir tu”
Si kecil menjawab, “Tidak Yah, kotak ini penuh dengan isi. Tadi kan, Nisa masukkan banyak sekali ciuman untuk Ayah.”
Si ayah merasa terharu, dia mengangkat anaknya. Dipeluk dan diciumnya.
“Puteri, Ayah belum pernah menerima hadiah seindah ini. Ayah akan selalu menyimpan hadiah ini.
Ayah akan bawa kekantor, sekali-kali kalau Ayah kangen dan memerlukan ciuman Nisa, ayah akan akan mengambil satu. Nanti kalau kosong boleh isi lagi kan!”
Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa-apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Ayah begitu antusias dengan “isi” kotak ini, kendati bagi orang lain kotak ini tak berisi apa-apa dan tidak lebih merupakan kotak kosong belaka.
Kosong bagi seseorang boleh dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang boleh dianggap kosong oleh orang lain. KOSONG dan PENUH - kedua-duanya merupakan produk dari “pikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena emberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong. Sebaliknya, bagi yang menginginkan makna, mereka dapat menorehkannya dengan berbagai kisah kehidupan yang penuh warna (ditulis kembali dari berbagai sumber)
Sediakan Waktu
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
Logika Sederhana, Tuhan Ada?
Di sebuah ruang kelas, para mahasiswa sedang mengikuti 'mata kuliah tak berujung pangkal' : Filosofi. Dosen yang mengajar mencoba melemparkan topik diskusi tentang Tuhan.
"Ada yang pernah melihat Tuhan?" tanya si dosen. Semua diam tak
menjawab.
"Ada yang pernah mendengar Tuhan bersuara?" si dosen bertanya lagi.
Kali ini pun tak ada yang menyahut.
"Ada yang pernah menyentuh Tuhan?" tanya dosen.
Semua diam.
"Kesimpulannya, Tuhan itu tidak ada," kata dosen senang.
Terdengar gumaman protes, sampai akhirnya seorang mahasiswa berdiri bertanya,
"Ada yang pernah melihat otak Pak Dosen?"
Tak ada jawaban.
"Ada yang pernah mendengar otak Pak Dosen?"
Tak seorang pun menjawab.
"Ada yang pernah menyentuh otak Pak Dosen?"
Sekali lagi hening.
"Kesimpulannya, Pak Dosen Filosofi tidak punya otak!"
"Ada yang pernah melihat Tuhan?" tanya si dosen. Semua diam tak
menjawab.
"Ada yang pernah mendengar Tuhan bersuara?" si dosen bertanya lagi.
Kali ini pun tak ada yang menyahut.
"Ada yang pernah menyentuh Tuhan?" tanya dosen.
Semua diam.
"Kesimpulannya, Tuhan itu tidak ada," kata dosen senang.
Terdengar gumaman protes, sampai akhirnya seorang mahasiswa berdiri bertanya,
"Ada yang pernah melihat otak Pak Dosen?"
Tak ada jawaban.
"Ada yang pernah mendengar otak Pak Dosen?"
Tak seorang pun menjawab.
"Ada yang pernah menyentuh otak Pak Dosen?"
Sekali lagi hening.
"Kesimpulannya, Pak Dosen Filosofi tidak punya otak!"
MOTHER'S WORDS
I can GIVE you LIFE, but cannot live it for you.
I can TEACH you THINGS, but I cannot make you learn.
I can GIVE you DIRECTIONS, but I cannot be there to lead you.
I can ALLOW you FREEDOM, but I cannot account for it.
I can TEACH you RIGHT from WRONG, but I cannot decide for you.
I can BUY you beautiful CLOTHES, but I cannot make you beautiful inside.
I can OFFER you ADVICE, but I cannot accept it for you.
I can GIVE you LOVE, but I cannot force it upon you.
I can TEACH you to SHARE, but I cannot make you unselfish.
I can TEACH you RESPECT, but I cannot force you to show honor.
I can ADVICE you about FRIENDS, but I cannot choose them for you.
I can ADVICE you about SEX, but I cannot keep you pure.
I can TELL you the facts of LIFE, but I can't build your reputation.
I can TELL you about DRINK, but I can't say "no" for you.
I can WARN you about DRUGS, but I can't prevent you from using them.
I can TELL you about lofty GOALS, but I can't achieve them for you.
I can TEACH you about KINDNESS, but I can't force you to be gracious.
I can TEACH you THINGS, but I cannot make you learn.
I can GIVE you DIRECTIONS, but I cannot be there to lead you.
I can ALLOW you FREEDOM, but I cannot account for it.
I can TEACH you RIGHT from WRONG, but I cannot decide for you.
I can BUY you beautiful CLOTHES, but I cannot make you beautiful inside.
I can OFFER you ADVICE, but I cannot accept it for you.
I can GIVE you LOVE, but I cannot force it upon you.
I can TEACH you to SHARE, but I cannot make you unselfish.
I can TEACH you RESPECT, but I cannot force you to show honor.
I can ADVICE you about FRIENDS, but I cannot choose them for you.
I can ADVICE you about SEX, but I cannot keep you pure.
I can TELL you the facts of LIFE, but I can't build your reputation.
I can TELL you about DRINK, but I can't say "no" for you.
I can WARN you about DRUGS, but I can't prevent you from using them.
I can TELL you about lofty GOALS, but I can't achieve them for you.
I can TEACH you about KINDNESS, but I can't force you to be gracious.
Berburu Sekolah Unggul
Tahun ajaran baru akan tiba. Artinya, akan banyak orang tua yang berburu sekolah untuk tempat pendidikan anak-anaknya. Gak sekolah negeri, gak sekolah swasta tetap saja menjadi rebutan kalau dinilai berkualitas unggul. Seperi apa sih sekolah unggul itu, apa saja yang harus dipertimbangkan ketika kita memutuskan sekolah tersebut menjadi pilihan anak-anak. Ini patut dipertanyakan karena akan timbul konsekuensi logis bila kita memilih sekolah ungglan. Sekurang-kurangnya, sederet angka rupiah harus disetorkan sebagai prasyarat menjadi siswa sekolah tersebut.
Pardan Prasetyo, M.Pd* memberikan tips dalam memilih sekolah unggulan sebagai berikut :
Bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan putra putrinya, disarankan untuk mencermati beberapa hal sebelum memilih. Sebagai bahan pertimbangan, berikut ini beberapa ciri sekolah yang banyak ditemui di banyak sekolah;
- Lebih mengedepankan aspek kognitif saja, bukan pada 3 ranah pendidikan secara utuh yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (ketrampilan). Hal ini disebabkan kurangnya pemahamn pengelola sekolah mengenai pentingnya caracter building (pembentukan karakter anak).
- Berpusat pada target materi ajar, bukan pada dinamika kelas untuk memperkaya anak dalam pengalaman & life skill melalui berbagai aktivitas yang mendorong munculnya inovasi dan kreativitas siswanya.
- Lebih pada Teacher Talking Time, dimana guru menjadi pemain utama. Sementara siswa hanya menjadi obyek bukanya subyek pelaku pembejaran. Siswa menjadi pendengar dan penonoton. Sementara aktor utamanya adalah guru. Hasilnya anak-anak pasif, kurang kreatif dan kurang memiliki rasa percaya diri.
- Lebih banyak menggunakan fungsi otak kiri yang terbatas. Bukan pada Multiple Intellegence atau Multi Kecerdasan yang mengakui dan memberdayakan seluruh dimensi kecerdasan dan keunikan siswanya.
- Berpusat pada hasil akhir bukan pada proses berkesinambungan. Memberlakukan ujian kognitif semata sehingga nilai ujian adalah segalanya yang akan menentukan nasib anak pada jenjang pendidikan selanjutnya.
- Berpusat pada pembelajaran serba abstrak bukan menekankan pengalaman belajar yang real dan seirama dengan realitas kehidupan siswa sehari-hari.
- Mengedepankan sistem ranking, mengakui dan menyanjung 1 sampai dengan 3 siswa ranking, dengan memvonis lebih banyak siswanya yang tidak ranking.
Demikianlah beberapa poin kesalahpahaman kebanyakan orang terhadap sekolah. Lalu apa dan bagaimana kita memilihkan sekolah yang baik untuk anak kita?
Seyogyanya para orang tua siswa mempertimbangkan aspek-aspek positif yang mencirikan sekolah itu dikatakan unggul:
- Konsep sekolahnya jelas dan tepat. Sekolah dikatakan unggul jika benar-benar menunjukan “the best process”, bukannya “the best input”, yakni keunggulan dalan proses belajar mengajar. Ada kemajuan yang terukur dari siswanya dari 3 aspek; secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Lihatlah, apakah terjadi perubahan positif pada perilaku anak setelah bersekolah selama 1 bulan misalnya.
- Pemahaman tentang sekolah oleh seluruh jajaran warga sekolah. Mulai dari kepala sekolah guru, staf administrasi hingga staf cleaning service. Apakah bisa kita dapatkan penjelasan yang kurang lebih sama dari semua warga sekolah tentang visi sekolahnya?
- Adanya program pengembangan guru yang berkesinambungan. Guru-guru secara terprogram dan terarah mendapatkan pelatihan-pelatiahn untuk peningkatan kompetensi
- Guru-gurunya memahami psikologi perkembangan anak. Bagaimana sikap guru dalam menghadapi masalah yang timbul pada siswa. Sekolah yang baik tercermin dari bagaimana kebiasaan guru-gurunya dalam menangani permasalahan siswanya. Apakah tercermin prinsip sayang namun tegas? Sayang, terlihat dari kedekatannya dengan siswa. Tegas, ditunjukan melalui konsistensinya menjalankan peraturan yang dibuat bersama para siswa. Selanjutnya, apakah guru selalu memberikan motivasi, atau sebaliknya lebih banyak menyalahkan dan memvonis siswa.
- Sekolah yang mempunyai guru-guru dengan cara mengajar yang EFEKTIF dan berkualitas. Guru-gurunya menguasai tehnik-tehnik mengajar yang sesuai denga kaedah pedagogik yang benar. Coba tanyakan, apakah guru memiliki lesson plan untuk sebelum mengajar. Apakah termasuk “teaching by planing” atau ‘teaching by feeling”
- Guru-guru yang memahami gaya belajar siswa-siswanya. Hal ini tercermin dari kesan dan tanggapan para siswa terhadap guru. Sebab bisa dipastikan, jika cara mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswanya, maka pelajaran akan terasa mudah dan menyenangkan. Sebaliknya, siswa jenuh dan mengalami kesulitan jika cara mengajar guru tidak sesuai denngan gaya belajar siswa.
- Melibatkan orang tua siswa secara aktif. Karena keberhasilan proses pendidkkan akan sangat tergantung dari kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa. Sehingga pola ajar disekolah seharusnya sinkron dengan pola asuh orang tuanya di rumah. Kehadiran dan keterlibatan orang tua siswa juga akan sangat membantu mengatasi permasalahan belajar yang dialami oleh siswa. Orang juga lebih banyak mengetahui perihal bagaimana membimbing anaknya di rumah. Alangkah baiknya jika wali kelas dalam rapt pertama bersama para orang tua siswa menyampaikan; “ Bapak ibu sekalian, kelas ini adalah ruang kelas anak-anak kita. Mari kita rancang bersama agar kelas ini menjadi tempat yang nyaman bagi putra-purti tercinta. Apakah Bapak/Ibu ada usulan?”. Jika anda orang tua siswa tentu anda akan tergugah untuk berpartisipasi.
OK Bunda, selamat berburu sekolah bermutu, memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak menjadi keharusan yang tak bisa ditawar lagi, karena itulah investasi terbaik yang bisa kita tanam, bukan buat diri kita, tapi untuk mereka sendiri.
Pardan Prasetyo, M.Pd* memberikan tips dalam memilih sekolah unggulan sebagai berikut :
Bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan putra putrinya, disarankan untuk mencermati beberapa hal sebelum memilih. Sebagai bahan pertimbangan, berikut ini beberapa ciri sekolah yang banyak ditemui di banyak sekolah;
- Lebih mengedepankan aspek kognitif saja, bukan pada 3 ranah pendidikan secara utuh yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (ketrampilan). Hal ini disebabkan kurangnya pemahamn pengelola sekolah mengenai pentingnya caracter building (pembentukan karakter anak).
- Berpusat pada target materi ajar, bukan pada dinamika kelas untuk memperkaya anak dalam pengalaman & life skill melalui berbagai aktivitas yang mendorong munculnya inovasi dan kreativitas siswanya.
- Lebih pada Teacher Talking Time, dimana guru menjadi pemain utama. Sementara siswa hanya menjadi obyek bukanya subyek pelaku pembejaran. Siswa menjadi pendengar dan penonoton. Sementara aktor utamanya adalah guru. Hasilnya anak-anak pasif, kurang kreatif dan kurang memiliki rasa percaya diri.
- Lebih banyak menggunakan fungsi otak kiri yang terbatas. Bukan pada Multiple Intellegence atau Multi Kecerdasan yang mengakui dan memberdayakan seluruh dimensi kecerdasan dan keunikan siswanya.
- Berpusat pada hasil akhir bukan pada proses berkesinambungan. Memberlakukan ujian kognitif semata sehingga nilai ujian adalah segalanya yang akan menentukan nasib anak pada jenjang pendidikan selanjutnya.
- Berpusat pada pembelajaran serba abstrak bukan menekankan pengalaman belajar yang real dan seirama dengan realitas kehidupan siswa sehari-hari.
- Mengedepankan sistem ranking, mengakui dan menyanjung 1 sampai dengan 3 siswa ranking, dengan memvonis lebih banyak siswanya yang tidak ranking.
Demikianlah beberapa poin kesalahpahaman kebanyakan orang terhadap sekolah. Lalu apa dan bagaimana kita memilihkan sekolah yang baik untuk anak kita?
Seyogyanya para orang tua siswa mempertimbangkan aspek-aspek positif yang mencirikan sekolah itu dikatakan unggul:
- Konsep sekolahnya jelas dan tepat. Sekolah dikatakan unggul jika benar-benar menunjukan “the best process”, bukannya “the best input”, yakni keunggulan dalan proses belajar mengajar. Ada kemajuan yang terukur dari siswanya dari 3 aspek; secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Lihatlah, apakah terjadi perubahan positif pada perilaku anak setelah bersekolah selama 1 bulan misalnya.
- Pemahaman tentang sekolah oleh seluruh jajaran warga sekolah. Mulai dari kepala sekolah guru, staf administrasi hingga staf cleaning service. Apakah bisa kita dapatkan penjelasan yang kurang lebih sama dari semua warga sekolah tentang visi sekolahnya?
- Adanya program pengembangan guru yang berkesinambungan. Guru-guru secara terprogram dan terarah mendapatkan pelatihan-pelatiahn untuk peningkatan kompetensi
- Guru-gurunya memahami psikologi perkembangan anak. Bagaimana sikap guru dalam menghadapi masalah yang timbul pada siswa. Sekolah yang baik tercermin dari bagaimana kebiasaan guru-gurunya dalam menangani permasalahan siswanya. Apakah tercermin prinsip sayang namun tegas? Sayang, terlihat dari kedekatannya dengan siswa. Tegas, ditunjukan melalui konsistensinya menjalankan peraturan yang dibuat bersama para siswa. Selanjutnya, apakah guru selalu memberikan motivasi, atau sebaliknya lebih banyak menyalahkan dan memvonis siswa.
- Sekolah yang mempunyai guru-guru dengan cara mengajar yang EFEKTIF dan berkualitas. Guru-gurunya menguasai tehnik-tehnik mengajar yang sesuai denga kaedah pedagogik yang benar. Coba tanyakan, apakah guru memiliki lesson plan untuk sebelum mengajar. Apakah termasuk “teaching by planing” atau ‘teaching by feeling”
- Guru-guru yang memahami gaya belajar siswa-siswanya. Hal ini tercermin dari kesan dan tanggapan para siswa terhadap guru. Sebab bisa dipastikan, jika cara mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswanya, maka pelajaran akan terasa mudah dan menyenangkan. Sebaliknya, siswa jenuh dan mengalami kesulitan jika cara mengajar guru tidak sesuai denngan gaya belajar siswa.
- Melibatkan orang tua siswa secara aktif. Karena keberhasilan proses pendidkkan akan sangat tergantung dari kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa. Sehingga pola ajar disekolah seharusnya sinkron dengan pola asuh orang tuanya di rumah. Kehadiran dan keterlibatan orang tua siswa juga akan sangat membantu mengatasi permasalahan belajar yang dialami oleh siswa. Orang juga lebih banyak mengetahui perihal bagaimana membimbing anaknya di rumah. Alangkah baiknya jika wali kelas dalam rapt pertama bersama para orang tua siswa menyampaikan; “ Bapak ibu sekalian, kelas ini adalah ruang kelas anak-anak kita. Mari kita rancang bersama agar kelas ini menjadi tempat yang nyaman bagi putra-purti tercinta. Apakah Bapak/Ibu ada usulan?”. Jika anda orang tua siswa tentu anda akan tergugah untuk berpartisipasi.
OK Bunda, selamat berburu sekolah bermutu, memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak menjadi keharusan yang tak bisa ditawar lagi, karena itulah investasi terbaik yang bisa kita tanam, bukan buat diri kita, tapi untuk mereka sendiri.
Ibu - Ibu Boros
Mengantar anak pergi sekolah merupakan "barang langka". Maksanya sekalinya mengantar anakku yang kecil mepet aja di badanku, gak mau jauh-jauh. Kalaupun menjauh pasti berbisik pada temannya "itu bundaku lho", katanya sambil mesem-mesem. Ada rasa bangga bercampur sedih. Dia ingin pamer kalau ibunyapun bisa mengantarnya ke sekolah seperti ibu-ibu teman yang lainnya.
Saat mengantar untuk kesekian kalinya, saya menemukan kumpulan ibu-ibu di Green Area yang sedang asyik mengobrol dan menimbang barang sambil menunggu anak-anaknya pulang.
"Dek...bunda nunggu di situ ya", pintaku sambil menunjuk kerumunan ibu-ibu.
"Jangan Nda...tunggu di depan kelas ade", jawabnya sambil menarik tanganku.
"Lho kenapa Nak?", tanyaku heran
"Mereka ibu-ibu boros, nanti bunda ikut-ikutan", bisiknya berjinjit meraih telingaku.
"Ibu-ibu boros? apaan tuh", aku bertanya lagi tak mengerti.
"Bunda...ibu-ibu boros itu ; kemarin beli sepatu, hari ini beli tas, besok beli baju, lusa beli lipstik. Bayarnya boleh nyicil", jawabnya dengan berapi-api
****)))))))^^)))
(saya hanya ternganga...ya ampun anak sebesar ini ternyata memahami transaksi orang tua)
Saat mengantar untuk kesekian kalinya, saya menemukan kumpulan ibu-ibu di Green Area yang sedang asyik mengobrol dan menimbang barang sambil menunggu anak-anaknya pulang.
"Dek...bunda nunggu di situ ya", pintaku sambil menunjuk kerumunan ibu-ibu.
"Jangan Nda...tunggu di depan kelas ade", jawabnya sambil menarik tanganku.
"Lho kenapa Nak?", tanyaku heran
"Mereka ibu-ibu boros, nanti bunda ikut-ikutan", bisiknya berjinjit meraih telingaku.
"Ibu-ibu boros? apaan tuh", aku bertanya lagi tak mengerti.
"Bunda...ibu-ibu boros itu ; kemarin beli sepatu, hari ini beli tas, besok beli baju, lusa beli lipstik. Bayarnya boleh nyicil", jawabnya dengan berapi-api
****)))))))^^)))
(saya hanya ternganga...ya ampun anak sebesar ini ternyata memahami transaksi orang tua)
Langganan:
Postingan (Atom)