Rabu, 01 Desember 2010

Jangan menunda


Sebuah kisah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah
rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi
segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama
menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati

ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan
suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah
satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan
menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan
sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat
berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan
kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun
yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar
saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita
jemput nenek di kampung".

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan
kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan
aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa
diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih
paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi
diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan
baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali
menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak
tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya,
buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku
menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar
membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira".
Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa:
"Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang
sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya
berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu
mencibir sambil menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa
pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa.
Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.

Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu
bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat
laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi
menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang
anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.
Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja
seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian
dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat
badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku
dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang
juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi
semakin repot, misalnya: dia suka menyimpan semua kantong-kantong
bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah
rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana
terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan
cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu
mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari,
nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia
segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis.

Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang
bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak
perduli.
Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot
sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan
dengan piring itu bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama,
suasana menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu
harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku
masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan
menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di
wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar
mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan
berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu
membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur,
suami berkata:"Luci, apakah kamu merasa masakan ibu tidak
enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?"
sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg
mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata:
"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap
pagi". Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba
canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba
ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi
perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar
mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut.
Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu
kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar
sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan
bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata.
Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan
suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan
menjauh…… suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga
meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di
rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah
kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan
ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat
menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya
kamu periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang
hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah
berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan
nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai
sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak
bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin
segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya.
Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi,
pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku.
Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera
memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan
segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya
tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi.....
mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir
dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa
tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku
menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang
membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah
berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya.
Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti
tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah
memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik,
dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan
uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya
membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini
dan pergi mencarinya di kantornya. Di kantornya aku bertemu
dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya
pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang
berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju
rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal.

Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang
jasad nenek yg terbujur kaku..
Sambil menangis aku menjerit
dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur
sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh
dengan kebencian.

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu
nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke
kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari
makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan
kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan
kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,
jika .......... dimatanya, akulah penyebab kematian nenek. 

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan
badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol.
Aku merasa
bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku
ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga
memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak.
Tetapi
melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.
Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku.
Waktu berlalu dengan sangat lambat.

Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain.
Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.


Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui
keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku
dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang
gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah
terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil
menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata
apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa.
Sang gadis
melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi
dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar
mata yg tidak kalah tajam dariku.
Suara detak jantungku terasa
sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.

Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika
tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku
apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih
kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke
rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari
seperti bekas dibongkar.
Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku
tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu
keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi ......
semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang
diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check
kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman
menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti
orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung
sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang
tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas
diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. Dua
bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil
membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar,
aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan
pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri
sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit
sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia
memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi,
aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Lusi,
kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia
berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg

mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi
tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam
keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia
membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus
lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu,
banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:
"Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk
memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu
tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada
sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat
kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu
tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku
bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin
bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pemberian dia,
tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara
lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku
padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku
segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar
nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar
nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari
dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura
sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia
lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........
itu adalah dulu, saat cintaku masih membara,
sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara suamiku
mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu
membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak
dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk
sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia
mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa
dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu
terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi
tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku.
Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit
dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari
masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah
yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari
taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan
erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku.

Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin.
Di tubuhnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam
dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian
rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan
penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil
menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari
ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh
dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang
tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum
dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris
memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya……
aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air
matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak
pernah merasakan sesakit seperti saat ini. Kata dokter, kanker
hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan
sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya
kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter,
bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi
peduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke
kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa
adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah
surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan
kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan,
sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu
dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan
kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu
tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam
komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap
segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh
mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini,
ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah
sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia
adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling
ayah cintai".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP,
SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia
juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu
adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini.
Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang
penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh
karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat
ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu
padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan
untuk memberikannya pada anak kita.. Pada bungkusan hadiah
tertulis semua tahun pemberian padanya".

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku
menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil
berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak
kita.
Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan
ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum...
....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg
mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu
aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di
tangan sambil berurai air mata ...........

moral of the story: jika kita memiliki ganjalan hati, segeralah selesaikan
jangan menunggu waktu yg akan menyelesaikannya dengan sendirinya
 






Pulau Tak Berpenghuni

Devon island, Kanada
Pulau ini lebih berupa "pulau padang pasir". Meskipun demikian, Devon Island tetap merupakan pulau di dunia 27 terbesar dan pulau tak berpenghuni terbesar di planet ini. Terletak di kepulauan Arktik Kanada barat laut Pulau Baffin, Pulau Devon memiliki luas 21.331 mil persegi (55.247 km ²).
Iklim brutal dingin kering telah membuat Pulau Devon wilayah pengujian yang sempurna untuk peneliti kehidupan masa depan di Mars. Ini bukan jenis tempat untuk hidup nyaman, dan akan membuat manusia kesulitan dalam banyak hal.
Maladewa
Kepulauan Maladewa adalah potret sebuah negara kepulauan, yang mencakup sekitar 1.190 pulau individu yang dibagi 5 sampai 10 pulau berpenghuni dan 20 sampai 60 yang tidak berpenghuni. Situasi unik geografi memungkinkan pengusaha di pulau-pulau berpenghuni untuk memberikan "liburan pulau terpencil" untuk wisatawan asing mencari untuk hidup sementara.


Aldabra
Pulau Aldabra adalah pulau karang terbesar kedua di dunia dengan total luas 60 mil persegi (155,4 km ²), dibagi menjadi empat pulau. Aldabra telah dikenal umat manusia selama berabad-abad, dimana namanya berasal dari bahasa Arab. Kelompok pulau ini terletak 265 mil (426,5 km) barat laut Madagaskar. Ibukota pulau ini, Mahé, ter lebiletak lebihh dari 700 mil (1,126.5 km) di timur. Sampai saat ini masih menjadi misteri mengapa Aldabra belum mampu mendukung bahkan pemukiman manusia kecil.

Pulau Aldabra adalah habitat salah satu kura-kura terbesar di dunia - sekitar 150.000 Kura-kura raksasa Aldabra (Dipsochelys dussumieri) berkeliaran bebas di sana. . Aldabra juga rumah bagi kepiting tanah terbesar di dunia, Kepiting Kelapa (Birgus latro).

Tetepare, Solomon.
Dikenal sebagai "pulau liar terakhir", Pulau Tetepare di Kepulauan Solomon telah tidak berpenghuni sejak pertengahan abad ke-19 ketika anggota suku asli melarikan diri ke pulau-pulau sekitarnya karena adanya ancaman meningkat dari headhunter. Pulau ini luasnya 45,5 mil persegi (118 km ²) dan merupakan pulau tak berpenghuni terbesar di kawasan barat Samudera Pasifik.
Pulau Tetepare telah dipantau sejak tahun 2002 oleh Tetepare Descendants Association (TDA), sebuah organisasi amal yang bertujuan untuk melestarikan pulau dari ilegal logging dan eksploitasi sumber daya lainnya untuk kepentingan generasi mendatang.

Rock Island, Palau
Pulau ini terkenal karena menjadi tempat shooting dari musim kesepuluh reality show Amerika "Survivor" pada awal tahun 2005. Rock Island (disebut Chelbacheb dalam bahasa Palauan asli) memiliki luas lahan total hanya 18 persegi mil (47 km ²) Pulau ini memiliki keanekaragaman ekologi.
Tempat yang indah dan subur ini mungkin tak berpenghuni hari ini tetapi tampaknya dulu sempat ada kehidupan manusia di sini. Salah satu contoh yang paling menarik adalah penemuan sisa-sisa kerangka "orang kecil".


Cocos Island, Kosta rika
Cocos Island terletak Galapagos utara, terhampar di Samudera Pasifik sekitar 340 mil (550 km) di lepas pantai barat Kosta Rika. Pulau seluas kira-kira 9,2 mil persegi (23,85 km ²) ini merupakan habitat dari rusa, babi, kucing, dan tikus. Perairan sekitar Cocos Island kaya akan oasis kehidupan laut.
Penulis Michael Crichton yang didasarkan dari novelnya Isla Nublar (dan kemudian film dan game) Jurassic Park di Pulau Cocos, menduga bahwa "Isla Nublar" adalah bahasa Spanyol untuk Pulau Berawan dan Cocos Island adalah satu-satunya pulau dekat Tengah atau Amerika Selatan dengan ekosistem hutan yang luas.

Mu Ko Ang Thong, Thailand
Mu Ko Ang Thong National Park (didirikan 1980) terdiri dari 42 pulau-pulau di Teluk Thailand. Meskipun taman secara keseluruhan meliputi 39,5 mil persegi (102 km ²), hanya 7 mil persegi (18 km ²) adalah lahan kering. "Ang Thong" berarti "Bowl of Gold", dan pulau-pulau menikmati cuaca yang hangat dan sinar matahari melimpah yang telah membuat kawasan wisata di provinsi Thailand Surat Thani begitu populer.
Pulau-pulau Mu Ko Ang Thong adalah lokasi dari The Beach dalam novel Alex Garland 1996 dan film 2000 dengan nama yang sama, dibintangi Leonardo DiCaprio.

Never Give Up

Sejumlah sejarahwan yakin, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika beliau berpidato di wisuda Universitas Oxford. Churchill mempersiapkan pidato ini selama berjam-jam. Dan ketika saat pidatonya tiba, Churchill hanya mengucapkan tiga kata : ‘never give up’ (jangan pernah berhenti).

Sejenak saya merasa ini biasa-biasa saja. Tetapi ketika ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana saya bisa berpresentasi di depan publik dengan cara yang demikian menguasai, saya teringat lagi pidato Churchill ini.

Banyak orang berfikir kalau saya bisa berbicara di depan publik seperti sekarang sudah sejak awal. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul dan minder.

Dan ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal ‘T’ yang tidak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya.

Tidak bisa tidur beberapa minggu, stress atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh murid dianjurkan agar saya dipecat saja menjadi dosen di tempat saya mengajar.

Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh banyak agen asuransi jempolan. Ditolak, dibanting pintu, dihina, dicurigai orang, sampai dengan dilecehkan mungkin sudah kebal. Pejuang kemanusiaan seperti Nelson Mandela dan Kim Dae Jung juga demikian. Tabungan kesulitan yang mereka miliki demikian menggunung. Dari dipenjara,hampir dibunuh, disiksa, dikencingin, tetapi toh tidak berhenti berjuang.

Apa yang ada di balik semua pengalaman ini, rupanya di balik sikap ulet untuk tidak pernah berhenti ini, sering bersembunyi banyak kesempurnaan hidup. Mirip dengan air yang menetesi batu yang sama berulang-ulang, hanya karena sikap tidak pernah berhentilah yang membuat batu berlobang.

Besi hanya menjadi pisau setelah ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar api panas ratusan derajat celsius. Pohon beringin besar yang berumur ratusan tahun, berhasil melewati ribuan angin ribut, jutaan hujan, dan berbagai godaan yang meruntuhkan.

Di satu kesempatan di awal Juni 1999, sambil menemani istri dan anak-anak, saya sempat makan malam di salah satu restoran di depan hotel Hyatt Sanur Bali. Yang membuat kejadian ini demikian terkenang, karena di restoran ini saya dan istri bertemu dengan seorang penyanyi penghibur yang demikian menghibur.

Pria dengan wajah biasa-biasa ini, hanya memainkan musik dan bernyanyi seorang diri. Modalnya, hanya sebuah gitar dan sebuah organ. Akan tetapi, ramuan musik yang dihasilkan demikian mengagumkan. Saya dan istri telah masuk banyak restoran dan kafe. Namun, ramuan musik yang dihadirkan penyanyi dan pemusik solo ini demikian menyentuh. Hampir setiap lagu yang ia nyanyikan mengundang kagum saya, istri dan banyak turis lainnya.

Rasanya susah sekali melupakan kenangan manis bersama penyanyi ini. Sejumlah uang tip serta ucapan terimakasih saya yang dalam, tampaknya belum cukup untuk membayar keterhiburan saya dan istri.

Di satu kesempatan menginap di salah satu guest house Caltex Pacific Indonesia di Pekan Baru, sekali lagi saya bertemu seorang manusia mengagumkan. House boy (baca : pembantu) yang bertanggungjawab terhadap guest house yang saya tempati demikian menyentuh hati saya. Setiap gerakan kerjanya dilakukan sambil bersiul. Atau setidaknya sambil bergembira dan tersenyum kecil.

Hampir semua hal yang ada di kepala, tanpa perlu diterjemahkan ke dalam perintah, ia laksanakan dengan sempurna. Purwanto, demikian nama pegawai kecil ini, melakoni profesinya dengan tanpa keluhan.

Bedanya penyanyi Sanur di atas serta Purwanto dengan manusia kebanyakan, semakin lama dan semakin rutinnya pekerjaan dilakukan, ia tidak diikuti oleh kebosanan yang kemudian disertai oleh keinginan untuk berhenti.

Ketika timbul rasa bosan dalam mengajar, ada godaan politicking kotor di kantor yang diikuti keinginan ego untuk berhenti, atau jenuh menulis, saya malu dengan penyanyi Sanur dan house boy di atas. Di tengah demikian menyesakkannya rutinitas, demikian monotonnya kehidupan, kedua orang di atas, seakan-akan faham betul dengan pidato Winston Churchill : “never give up.”

Anda boleh mengagumi tulisan ini, atau juga mengagumi saya, tetapi Anda sebenarnya lebih layak kagum pada penyanyi Sanur dan house boy di atas. Tanpa banyak teori, tanpa perlu menulis, tanpa perlu menggurui, mereka sedang melaksanakan profesinya dengan prinsip sederhana : “jangan pernah berhenti.”

Saya kerap merasa rendah dan hina di depan manusia seperti penyanyi dan pembantu di atas. Bayangkan, sebagai konsultan, pembicara publik dan direktur sebuah perusahaan swasta, tentu saja saya berada pada status sosial yang lebih tinggi dan berpenghasilan lebih besar dibandingkan mereka. Akan tetapi, mereka memiliki mental “never give up” yang lebih mengagumkan.

Kadang saya sempat berfikir, jangan-jangan tingkatan sosial dan penghasilan yang lebih tinggi, tidak membuat mental “never give up” semakin kuat.

Kalau ini benar, orang-orang bawah seperti pembantu, pedagang bakso, satpam, supir, penyanyi rendahan, dan tukang kebunlah guru-guru sejati kita.

Jangan-jangan pidato inspiratif Winston Churchill - sebagaimana dikutip di awal - justru diperoleh dari guru-guru terakhir.
(sumber : berbagicerita.com)
Dari sudut pemikiran kamu semua,hotel paling tercantik di dunia mestilah hotel Burj al-arab,hotel Armani(baru dibuka di burj khalifa) dan juga hotel Emirates Palace di Abu Dhabi.memang tidak dinafikan tetapi kalau dipandang dar sudut persekitaran,hotel Salto Chico di Chile ini mempunyai keistimewaan yang tersendiri.Mempunyai kecantikan alam yang tiada tolok bandingnya.Jika selama ini anda tercari-cari kamar mewah berlapis bak diraja dengan melihat view yang begitu mengasyikkan,mungkin ini yang terbaik.

Hotel Salto Chico menjadi salah satu yang terbaik mungkin dari lokasinya yang menakjubkan.Lokasinya tidak susah untuk dicari kerana anda akan kesana melalui Santigo ke Punta Arenos,Chile.Anda akan disambut bagaikan raja setibanya dari airport dan dibawa dengan kenderaan mewah ke hotel tersebut.Setelah sampai di hotel,anda akan terpegun dengan keindahan bukan sahaja di luar hotel,malah di dalam hotel.Ini yang akan membuatkan percutian anda bagaikan bulan madu walaupun sudah berumur.

Anda akan menikmati perjalanan yang menyenangkan saat mengikuti acara eksplorasi yang diadakan oleh Hotel Salto Chico. The Lago Grey peninsular Walk adalah salah satu lokasi indah yang biasanya memakan masa setengah hari untuk menikmatinya. Jambatan gantung The Rio Pingo adalah yang paling menarik selain pemandangan dari Glacier Grey, gunung es, dan hutan lenga. Sementara Alturas Del Toro Walk adalah lokasi yang sempurna untuk acara full-day picnic. Anda akan terpegun dengan keindahan alam di Rio Paine dan Valle Río Serrano.


Kegiatan outdoor yang menarik adalah tradisi barbeque di Quincho dan jalan-jalan di sekitar Laguna Azul. Acara ini memakan masa satu hari dan di sini anda akan menikmati kambing guling sambil menikmati hidangan kehidupan liar seperti serigala, angsa, burung kondor, dan lainnya. Menaiki kapal boat menyeberangi Glacier Grey juga merupakan kenangan yang terindah sambil menikmati ngarai-ngarai, sungai, dan hutan dari berbagai sudut.

Dalam perjalanan yang panjang anda akan beristirahat sebentar di the Mirador del Toro Walk. Di sini Anda akan menemukan pemandangan indah dari the Conaf Park. Gunung-gunung Cerro Ferrier dan Cerro Donoso yang menjulang di Lago Toro dan Rio Serrano turut menciptakan scene yang indah. Ingin lebih, Anda mestilah mengikuti archaeological walk dari Guarderia Sarmiento menuju Guarderia Laguna Amarga. Di sini Anda akan menikmati pemandangan gunung-gunung karang dari zaman kuno dipadu dengan view landscape yang fantastik

Untuk yang menyukai menunggang kuda ada banyak lokasi di sini yang boleh dijelajahi seperti di dekat hutan di Río de las Chinas dan lokasi-lokasi lainnya seperti Estancia de Enero yang cantik pemandangannya untuk anda menghabiskan waktu sambil memacu kuda tunggangan. Di beberapa lokasi ini anda mungkin akan berjumpa dengan burung-burung kasawari dan juga mendengar teriakan-teriakan helang.




Terakhir, jika ingin sesuatu yang unik dari alam di Hotel Salto Chico, Anda tidak boleh tidak melihat Taman Nasional Torres del Paine. Disinilah akan dijumpai panduan sempurna berbagai macam flora, landscape yang indah, ditambah spesies-spesies wild-life. kawasan ini sudah termasuk sebagai Kawasan Warisan Dunia tahun 1978 oleh UNESCO, taman nasional yang berlokasi di Patagonia tengah ini membentang hingga seluas 242.242 hektar. Di sini lengkap dengan danau-danau, sungai, glaciers, dan air terjun untuk anda jelajahi. Jangan lupa juga untuk pergi ke desa El Calafate dan Perito Moreno di kawasan ini untuk melengkapi kunjungan Anda di Hotel Salto Chico.

Aku mencintaimu...


Suami Carol tewas dalam kecelakaan mobil tahun lalu. Jim, yang baru berumur lima puluh dua tahun, sedang mengemudikan mobil ke rumah, dari kantornya. Yang menabraknya adalah seorang remaja yang mabuk berat. Jim tewas seketika. Remaja itu masuk ruang gawat darurat, namun tidak sampai dua jam di sana.

Ironisnya lagi, hari itu hari ulang tahun Carol yang kelima puluh, dan Jim sudah membeli dua tiket pesawat ke Hawaii. Ia ingin memberi kejutan untuk istrinya. Tapi ia justru tewas gara-gara seorang pengemudi mabuk.


"Bagaimana kau bisa mengatasi itu?" tanyaku pada Carol, setahun kemudian.
Mata Carol basah oleh air mata. Kupikir aku sudah salah bicara, tapi dengan lembut ia meraih tanganku dan berkata, "Tidak apa-apa. Aku ingin menceritakan padamu.

Ketika aku dan Jim menikah, aku berjanji bahwa setiap pagi, sebelum dia berangkat, aku mesti mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia juga membuat janji yang sama. Akhirnya hal itu menjadi semacam gurauan di antara kami. Ketika anak-anak mulai lahir, sulit untuk menepati janji itu.


Aku ingat aku suka lari ke mobilnya sambil berkata, 'Aku mencintaimu', dengan gigi terkatup rapat kalau aku sedang marah. Kadang aku mengemudi ke kantornya untuk menaruh catatan kecil di mobilnya. Hal itu menjadi tantangan yang lucu. Banyak kenangan kami tentang kebiasaan mengucapkan cinta ini setiap hari, sepanjang kehidupan perkawinan kami.

Pada pagi Jim meninggal, ia menaruh kartu ulang tahun di dapur, lalu pergi diam-diam ke mobilnya. Kudengar mesin mobilnya dinyalakan. Jangan coba-coba kabur, ya, pikirku. Aku lari dan menggedor jendela mobilnya, sampai ia membukanya. "Hari ini, adalah ulang tahunku yang kelima puluh, Bapak James E. Garrett, aku, Carol Garrett, ingin menyatakan bahwa aku mencintaimu."

Karena itulah aku bisa tabah menghadapi peristiwa itu. Karena aku tahu bahwa kata-kata terakhir yang kuucapkan pada Jim adalah 'Aku mencintaimu.'"

Oleh: Debbie Smoot
Sumber: A Second Chicken Soup for the Woman's Soul

Jembatan Indah Di Seluruh Dunia....

Helix Bridge – Singapore

Jembatan Helix, juga dikenal sebagai Double Helix Bridge, adalah sebuah
jembatan penyeberangan yang menghubungkan Marina Centre dengan
Marina Selatan di daerah Marina Bay di Singapura. Saat itu dibuka pada April
24, 2010. The spiral khusus jembatan mengambil bentuk DNA: elemen pada
akar kehidupan. Jembatan ini maka melambangkan kehidupan, pembaharuan
dan pertumbuhan
.
 
Roman bridge – ourense, spain

roman bridge adalah sebuah karya arsitektur gaya kuno. Jembatan
ini dibangun oleh roma kuno di ourense, spanyol. Jembatan ini dibuat dari
batu.

Ponte vecchio – firenze, italy

jembatan adalah sebuah jembatan era abad pertengahan di atas
sungai arno, di florence, italia. Jembatan ini pertama kali dibangun pada
zaman romawi dan merupakan contoh yang elegan gaya arsitektur romawi.
 
The wind and rain bridge – chengyang, china

jembatan ini unik dan indah di provinsi guangxi cina, dibangun oleh
orang dari kelompok etnis yang berbeda termasuk miao, zhuang, dong dan
yao. Angin chengyang dan jembatan hujan juga dikenal sebagai yongji
jembatan atau panlong bridge. Ini dibangun di sungai linxi. Jembatan ini
dibangun pada tahun 1916. Jembatan yang dibangun dengan kayu dan batu.
Ini adalah 64,4 meter (73,43 meter) panjang, 3.4 metes (3,72 meter) lebar
dan 10,6 meter (34,78 kaki) tinggi.
 
Sydney harbour bridge – sydney, australia

sydney harbour bridge adalah jembatan di sydney, australia. Ini membawa
lalu lintas antara distrik bisnis pusat sydney (cbd) dan north shore.
Jembatan ini dibuka pada tahun 1932

Khaju brigde – isfahan, iran

khaju bridge adalah jembatan menakjubkan di isfahan, iran
dibangun oleh shah abbas ii sekitar tahun 1650, di atas fondasi sebuah
jembatan tua. Ini menghubungkan kuartal khaju di tepi utara dengan kuartal
zoroastrian melintasi sungai zayandeh. Jembatan yang terbuat dari batu dan
batu bata. Ini adalah 7,5 meter
.
 
Brooklyn bridge – new york, usa

jembatan ini awalnya dikenal sebagai new york dan brooklyn bridge. Menjadi
salah satu jembatan tertua di amerika serikat,jembatan itu selesai pada
tahun 1883. Jembatan ini menghubungkan new york city of manhattan dan
brooklyn dengan rentang east river.
 

Tower bridge – london, england

tower bridge anggun berdiri di atas sungai thames, di london, inggris.
Jembatan ini dekat dengan menara london dan terdiri dari dua menara
sebagai bagian dari struktur itu, itulah alasan nama tower bridge.
Pembangunan jembatan dimulai pada tahun 1886 dan selesai pada tahun
1894.
 
Sky bridge petronas – kuala lumpur, malaysia

sky bridge petronas, juga dikenal sebagai twin tower berdiri dengan bangga
di kuala lumpur, malaysia. Menara ini adalah gedung tertinggi di dunia
1998-2004. Menara memiliki jembatan yang paling menakjubkan dan unik di
dunia, yang menghubungkan dua menara di lantai 41 dan ke-42. Ini adalah
jembatan 2 lantai tertinggi di dunia


 
The Millau Viaduct – Tarn Valley, France

Millau Viaduct adalah Jembatan jalan kabel tinggal yang mencakup lembah
sungai Tarn dekat Millau di selatan Perancis. Jembatan terdiri dari sebuah
jalan baja delapan span didukung oleh tujuh tiang beton.

Golden Gate Bridge – San Francisco, USA

Golden Gate Bridge meliputi Golden Gate, yang merupakan pembukaan dari
San Fransisco Bay ke Samudera Pasifik. Ia selesai pada 1937. Pada saat itu,
itu adalah jembatan terpanjang di dunia. Masih adalah jembatan terpanjang
kedua di Amerika Serikat.
 
Henderson Waves Bridge – Singapore

Gelombang indah dan mengagumkan berbentuk jembatan penyeberangan
pejalan kaki adalah jembatan tertinggi di Singapura menghubungkan Mount
Faber Park dan Telok Blangah Hill Park di Singapura. Henderson Waves adalah
sebuah jembatan 274 meter (899 kaki) pejalan kaki panjang. Ini adalah 36
meter (118 kaki) di atas Henderson Road.

Bosphorus Bridge – Istanbul, Turkey

Jembatan Bosphorus Istanbul, Turki menghubungkan dua benua. mencakup
Jembatan Selat Bosphorus dan menghubungkan Eropa dan Asia. Dek
aerodinamis yang tergantung pada zigzag kabel baja. Ini adalah 1.510 m
(4954 ft) panjang dengan lebar dek 39 m (128 ft).

Kisah 2 Orang Dokter

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi.

Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.”

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah.
Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.

“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!”
“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah.

Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus.
Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita.

Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.
Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.


Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.”

Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha.”

Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka.
Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.
Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya.

Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung


Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!

“Gila… ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan.

Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:
“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.” 

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll.
Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.
Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

“Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.
Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia.
Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya!
Kami juga mengajar di Universitas.
Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram.
Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…”

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama. (dari seorang netter)