Minggu, 22 Agustus 2010

Doa Indah Para Nabi



1. Doa Nabi Adam

Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin
Artinya : Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.

2. Doa Nabi Nuh

“ Robbi inni audzubika an as alaka maa laisalli bihi ilmun wa illam tagfirli watarhamni akum minal khosirin “ (surat Hud; 47)

Artinya : Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi

3. Doa Nabi Ibrahim

“ Robbana taqobal minna innaka anta sami’ul alim wa tub alaina innaka antat tawwaburrokhim “ (al baqarah; 128-129)

Artinya : Ya Tuhan kami terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau maha mendengar dan Mengetahui, dan termalah taubat kami, sesungguhnya Engkau penerima taubat lagi Maha Penyayang.

“ Robbi ja alni muqimas sholati wa min dzuriyyati, robbana wa taqobal doa, Robbannagh firli wa li wa li dayya wa li jamiil mukminina yauma yaqumul hisab “ (ibrahim ; 40 -41)

Artinya : Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.



4. Doa Nabi Yunnus

“ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dholimin “ (al anbiya;87)
Artinya : Tidak ada Tuhan Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku orang yang dholim

5. Doa Nabi Zakariya

“ Robbi latadzarni wa anta choirul warisin “ (an biya ; 89)
Artinya : Ya Allah janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sesungguhnya engkau pemberi waris yang paling baik

“ Robbi habli miladunka duriyattan, thoyibatan innaka sami’ud du’a “ (ali imron;28)
Artinya : Ya Tuhan berilah aku seorang anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau maha pendengar Doa



6. Doa Nabi Musa

“ Robis shrohli shodri wa ya shirli amri wah lul uqdatam mil lissani yah khohu khouli “ (Thoha ; )
Artinya : Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku

“ Robbi inni dholamtu nafsi fa firlhi “ (al qhosos ; 16)
Artinya : Ya Allah aku menganiaya diri sendiri, ampunilah aku

“ Robbi Naj jini minal qumid dholimin “
Artinya : Ya Tuhan lepaskanlah aku dari kaum yang dholim

“ Robbi ini lima anzalta illayya min khoirin faqir “ (al qhosos; 24)
Artinya : Ya Tuhanku sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku

“ Robbi firli wa li akhi wa adkhilna fi rohmatika, ya arhamar rokhimin “ (
Artinya : Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau Maha Penyayang diantara yang menyayangi

7. Doa Nabi Isa

“ Robbana anzil alaina ma idatam minas samai taqunu lana idzal li awalina, wa akhirina, wa ayyatam minka war zukna wa anta khoiru roziqin “ ( al maidah ; 114)
Artinya : Ya Tuhanku turunkanlah pada kami hidangan dari langit, yang turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang – orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rejeki dan Engkaulah pemberi rejeki yang paling baik.

8. Doa Nabi Syuaib :

“ Robbana taf bainana, wa baina kaumina bil haqqi , wa anta khoirul fatihin “ (A araf; 89)
Artinya : Berilah keputusan diantara kami dan kaum kami dengan adil, Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik – baiknya.

9. Doa Nabi Ayyub :

“ Robbi inni masyaniyad durru wa anta arhamur rohimin “
Artinya : Bahwasanya aku telah ditimpa bencana, Engkaulah Tuhan yang paling penyayang diantara penyayang.

10. Doa Nabi Sulaiman

“ Robbi auzidni an askhuro ni’matakallati an amta allaya wa ala wa li dayya wa an a’mala sholikhan tardhohu wa ad khilni birrohmatika fi ibadikas sholikhin “ (an naml; 19)
Artinya : Ya Tuhan kami berilah aku ilham untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambMu yang Sholeh.



11. Doa Nabi Luth

“ Robbi naj jini wa ahli mimma ya’malun “
Artinya : Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan

“ Robbin surni alal kaumil mufsidin “ (assyu araa ; 169)
Artinya : Ya Tuhanku tolonglah aku dari kaum yang berbuat kerusakan

12. Doa Nabi Yusuf

“ Fatiros samawati wal ardli anta fiddunya wal akhiro tawwaffani musliman wa al hiqni bissholihin “
(yusuf ; 101)
Artinya : Wahai pencipta langit dan bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan pasrah (islam), dan masukkanlah aku dengan orang – orang sholeh.

13. Doa Nabi Muhammad

“ Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar “ (hadist)
Artinya : Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka

“ Robbana latuzig qullubana ba’daidz haddaitana wahabblana miladunka, rohmatan innaka antal wahab” (Ali Imron; 8 )
Artinya : Ya Tuhanku janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah kami rahmat, sesungguhnya Engkau adalah dzat yang banyak pemberiannya.

Selasa, 10 Agustus 2010

Rabbana Ya Rabbana (Owais Qadri)

7 Alasan Susah – Senang Ada Ayah


Ayah tentu ingin bersama anak dalam segala situasi. Bisa jadi tak mudah Anda lakukan. Tapi coba deh…. Manfaatnya luar biasa!

Tak hanya saat sulit anak butuh ayah. Ketika senang pun ia ingin ayah ada di sisinya. Memang, kehadiran ayah, dalam berbagai situasi, memberi arti tersendiri bagi anak. Untuk alasan apa saja Anda perlu selalu ada bersama anak?

1. Ayah punya naluri yang amat tajam untuk bisa memahami perasaan anaknya. Naluri itu tak timbul sendiri! Ketajaman naluri ayah terwujud melalui semakin terasah dan terampilnya ayah mengurus si kecil. Memang tak mudah memahami perasaan anak. Tapi, upayakan melibatkan diri seawal mungkin mengurus si kecil agar Anda ikut merasakan dan memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkannya. Setelahnya, Anda pun tak perlu lagi bertanya-tanya: Apakah anakku saat ini senang atau sedih ya? Apa sih yang ia perlukan ketika menangis? Ia lapar atau popoknya basah?

2 . Perlindungan ayah pada gadis kecilnya yang sedang cemas membuatnya merasa aman. Walau tampak sepele, perasaan aman dan terlindungi membuat si gadis cilik tumbuh lebih percaya diri dan lebih tegar menghadapi dunia, terutama ketika berhubungan dengan lawan jenis. Sedangkan perhatian dan perlindungan ayah pada anak laki-lakinya menjadi pedoman bagi si kicil untuk berperilaku. Tunggu apa lagi, Yah? Si kecil butuh perhatian, perlindungan dan dukungan Anda untuk melewati hari-hari sulit pertumbuhan dan perkembangannya.

3. Ayah di mata anak-anaknya selalu dipandang pintar dan dapat menyelesaikan persoalan dengan baik. Mereka butuh ayah yang selalu mau membantu mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Bagi si gadis cilik, bantuan ayah berpengaruh positif terhadap perkembangan intelektualnya. Sedang untuk si perjaka kecil, ayah mengilhaminya melakukan strategi pemecahan masalah, berpikir dan memilih kata-kata dalam berbicara.

4. Ke mana lagi si gadis dan perjaka cilik bertanya jika bingung menghadapi tugas akademis? Ayah dan ibunya! Namun bantuan ayah yang memberi penjelasan ekstra dipandang istimewa oleh anak. Ayah berperan besar mendorong semangat anak berprestasi. Ayah juga model yang menyenangkan yang diam-diam mengajari berbagai hal dan membuat si kecil melihat dunia dengan kaca mata berbeda. Ingin si kecil menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit? Mulailah menemaninya belajar hari ini!

5. Kegiatan anak bersama ayah biasanya lebih ceria dan penuh kejutan. Si kecil seringkali terkekeh-kekeh menghadapi ulah gila-gilaan ayah. Cara ini bukannya tanpa manfaat. Keceriaan ayah-anak ini membuka jalur komunikasi. Anak membuka diri mengenai masalah-masalahnya pada ayah tanpa takut. Kedekatan ini membuat si kecil lebih mudah bersosialisasi, dan lebih berani mengemukakan pendapat. Ayolah ayah, tak perlu terlalu jaga wibawa . Sekali-sekali melakukan kegiatan gila-gilaan bersama anak toh tak mengurangi wibawa Anda.

6. Betapa cerianya si kecil ketika membantu ayah mencuci mobil sambil sembur-semburan air. Ketika itu anak merasa sepenting ayah. “Aku juga bisa melakukan pekerjaan ayah kok!” mungkin begitu anak berujar di benaknya. Bagi anak, membantu ayah membuatnya merasa semampu ayah, sehingga hal-hal sepele yang dikerjakannya dapat meningkatkan rasa percaya dirinya. Memberi anak pekerjaan sederhana dan meminta menyelesaikannya juga mengajarkan si kecil bagaimana mengemban tanggung-jawab. Anda layak pertimbangkan anak menjadi asisten kecil Anda di rumah. Si kecil pasti bangga!

7. Membawa anak ke tempat kerja? Mengapa tidak? Momen ini membantu anak mengenal ayah lebih dekat. Si kecil pasti tertarik dan berusaha mengikuti apa pun yang Anda lakukan di tempat kerja ayahnya. Anak juga memahami ayah secara berbeda dari yang dilihatnya sehari-hari. Jangan heran jika perilaku Anda di tempat kerja menjadi perbendaharaan tingkah lakunya ketika bermain peran. Ia tak lagi melulu menjadi dokter atau guru, namun menjadi ayahnya yang sedang bekerja. Perlu bukti? Ayo jadwalkan kunjungan si kecil ke tempat kerja Anda.
__________________

Setiap Langkah adalah Anugerah




Seorang professor diundang untuk berbicara disebuah basis militer.
Di sana , ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin
dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.
Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya.
Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas.
Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.
Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ?
"tanya sang professor.
"Melakukan apa ? "tanya Ralph.

"Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ?
"desak sang professor.

"Oh.." kata Ralph, "selama perang ....saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal."
Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam... Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah." katanya.
"Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya."

"Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini."

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.

Nilai manusia ......tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.

Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP
SAAT...
Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.

Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..

Biarlah hanya Allah yang Mengenalku


Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf. Tu'rafuna fi ahlis-sama' wa tukhfuna fi ahlil ardhi. (Berusahalah kalian agar lebih dikenal oleh para penghuni langit, walaupun tak seorangpun penduduk bumi yang mengenal kalian. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menyebut tipe manusia seperti ini dengan sebutan Al Akhfiya' (manusia-manusia tersembunyi). Beliau juga mengatakan Allah 'Azza wa Jalla sangat mencintai manusia tipe ini. Mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, sebab -bagi mereka- yang penting adalah apa kata Allah tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mengalami kegilaan akan kemasyhuran.

Ini adalah kisah salah satu dari Al Akhfiya' itu.

Ia hidup di masa tabi'in. Namun, hingga hari ini, tak satu buku sejarah pun yang dapat menyingkap identitas pria ini. Satu-satunya informasi tentangnya hanyalah bahwa ia adalah seorang pria berkulit hitam dan bekerja sebagai tukang sepatu. Yang menceritakan tentang pria ini adalah seorang tabi'in bernama Muhammad ibn al-Munkadir -rahimahullah-. Berikut adalah kisahnya:

Malam itu sudah terlalu malam dan gelap. Namun, walaupun malam, udara terasa lebih panas dari biasanya. Tidak aneh memang, sebab hari itu adalah salah satu dari hari-hari kemarau panjang di kota Madinah. Sudah setahun ini kota Madinah tidak pernah mendapatkan curahan air dari langit. Entah telah berapa kali penduduk Madinah berkumpul untuk melakukan shalat istisqa' demi meminta hujan. Namun, hingga malam itu, tak setetes hujan pun yang turun menemui mereka.

Dan malam itu, seperti kebiasaannya bila sepertiga malam akhir menjelang, Muhammad ibn al-Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas menuju Masjid Nabawi untuk menunaikan shalat Lail (Tahajjud). Usai mengerjakan shalatnya malam itu, Ibn al Munkadir bersandar ke salah satu tiang masjid. Tiba-tiba, ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk mengetahui siapa sosok itu. Agak sulit ia mengenalinya, sebab malam itu telah begitu gelap. Dengan agak susah payah, ia melihat seorang pria berkulit hitam agak kecokelatan. Tapi ia sama sekali tidak mengenalinya.

Pria itu membentangkan sebuah kain di lantai masjid. Dan kelihatannya, pria itu benar-benar merasa hanya ia sendiri yang berada di dalam masjid. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Ibn al-Munkadir yang berada tidak jauh dari dirinya.

Kemudian, pria itu berdiri mengerjakan shalat dua raka'at. Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusyu' ia bermunajat. Dan dalam munajatnya, ia mengatakan, "Duhai Tuhanku, penduduk negeri Haram-Mu ini telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu namun Engkau tidak kunjung mengkaruniakannya kepada mereka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon padamu curahkanlah hujan itu untuk mereka."

Ibn al-Munkadir yang mendengar munajatnya, agak sedikit mencibir dalam hati, "Dia pikir dirinya siapa mengatakan seperti itu. Orang-orang shalih seantero Madinah telah keluar untuk berdoa meminta hujan, namun tak kunjung dikabulkan. Lalu tiba-tiba, orang ini ingin berdoa pula."

Namun sungguh di luar dugaan, belum lagi pria hitam itu menurunkan kedua tangannya, tiba-tiba saja suara guntur bergerumuh di langit. Tak lama, tetesan-tetesan air hujan pun membasahi bumi Madinah. Sudah lama tidak begitu. Tak terkira betapa gembiranya pria itu. Segala pujian dan sanjungan ia ucapkan kepada Allah Ta'ala. Namun tidak lama kemudian, ia berkata dengan penuh ketawadhu'an, "Duhai Tuhanku, siapakah aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan doaku?"

Ibn al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang pria itu. Tak lama setelah itu, pria tersebut bangkit kembali dan melanjutkan raka'at-raka'at shalat malamnya. Hingga ketika subuh menjelang, sebelum kaum muslimin lain berdatangan, ia segera menyelesaikan witirnya. Dan ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seolah-olah ia baru saja tiba di masjid itu. Usai mengerjakan shalat subuh, pria itu bergegas keluar masjid. Jalan-jalan kota Madinah subuh itu digenangi air pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya lalu menghilang. Ibn al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. Ia benar-benar tidak tahu ke mana pria hitam itu pergi.

Malam berikutnya, Ibn al-Munkadir kembali mendatangi masjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali melihat sosok pria hitam itu. Persis seperti kemarin. Ia mengerjakan shalat malamnya hingga subuh menjelang. Dan ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seperti orang yang baru saja tiba di masjid itu. Dan saat sang imam mengucapkan salam, pria itu tidak menunggu lama. Persis seperti kemarin, ia bergegas meninggalkan masjid. Dan Ibn al-Munkadir mengikutinya lagi dari belakang. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria hitam itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong, dan setibanya di depan sebuah rumah, ia langsung masuk ke dalamnya. Ibn al-Munkadir berkata dalam hati, "Rupanya disinilah rumahnya. Sebentar, aku akan mengunjunginya."

Matahari telah naik sepenggelahan. Usai menyelesaikan shalat Dhuha'nya, Ibn al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria hitam itu. Didapatinya pria itu sedang sibuk mengerjakan sebuah sepatu. Begitu ia melihat sosok Ibn al-Munkadir, ia segera mengenalinya dan menyambutnya, "Marhaban wahai Abu 'Abdullah (panggilan Ibn al-Munkadir)! Adakah yang bisa saya bantu? Mungkin kau ingin memesan sebuah alas kaki?"

Namun, Ibn al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain, "Bukankan kau adalah orang yang bersamaku di masjid kemarin malam?"

Dan tanpa diduga, wajah pria hitam itu tiba-tiba berubah. Dia nampaknya sangat marah. Dengan nada suara yang tinggi, ia berkata, "Apa urusanmu dengan semua itu, wahai Ibn al-Munkadir?"

Ibn al-Munkadir berkata dalam hati, "Nampaknya dia sangat marah. Aku harus segera pergi dari tempat ini." Dan ia pun segera pamit meninggalkan rumah pria hitam tukang sepatu itu.

Malam berikutnya, Ibn al-Munkadir menjalankan aktivitas rutinnya di masjid Nabawi. Di hatinya, ada harapan yang kuat untuk bertemu dengan pria hitam itu kembali. Seusai mengerjakan shalat malamnya, ia kembali bersandar sambil berharap dapat bertemu dengan pria hitam si tukang sepatu.

Satu hal yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam semakin larut bahkan hampir menjelang subuh, namun sosok yang ditunggunya tak kunjung muncul. Ibn al-Munkadir kemudian tersadar. Ia telah melakukan suatu kesalahan. "Inna lillah! Apa yang telah kulakukan?" Demikian gumamannya ketika menyadari kesalahan tersebut.

Dan usai shalat subuh, ia segera meninggalkan masjid dan mendatangi rumah pria hitam si tukang sepatu. Namun, yang ditemukannya hanyalah pintu yang terbuka dan tidak ada lagi sosok pria hitam si tukang sepatu. Orang-orang di sekitar rumah itu bertanya, "Wahai Abu 'Abdullah, apa yang terjadi antara kau dan dia?"

"Apa yang telah terjadi" Ibn al-Munkadir bertanya kembali.

"Ketika kau keluar dari sini kemarin, ia segera mengumpulkan semua barangnya hingga tak satupun yang tersisa. Lalu ia pergi dan kami tak tahu kemana ia pergi hingga kini." Begitulah penjelasan orang-orang di sekitar rumah itu.

Dan sejak hari itu, Ibn al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota Madinah untuk mencari pria hitam si tukang sepatu. Namun, sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan hasil. Dan hingga kini di abad 14 Hijriah ini, kita pun tidak pernah tahu siapa sosok pria hitam si tukang sepatu itu sebenarnya. Jejak-jejaknya yang terhapus oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, "Biarlah hanya Allah Yang Mengenalku...."

Pembasuh Jiwa


[HQ.2.2] Berkata Abu Dzar ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
Satu kebajikan diganjar dengan sepuluh kali, atau lebih dari itu. Dan satu kejahatan tetap satu, ataupun Aku mengampunimu daripadanya. Andaikata seseorang itu menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi tetapi ia tidak menyekutukan Aku, niscaya Aku akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi. [HR. Muslim dan Abu Nu’aim] [AS82]

Senin, 02 Agustus 2010

Chrisye-Ketika Kaki dan Tangan Berkata