Minggu, 20 Desember 2009

Infaq seorang Hakim


Momentum Iedul Qurban tahun ini membuat saya membaca berulang kali beberapa literatur tentang pengorbanan yang dilakukan Ibrahim Alaihis-salam. Saya yakin, anda sudah mengetahui hal ini. Saya mendalami makna cinta yang begitu kuat dalam hati Ibrahim As kepada Tuhannya, hingga ia rela mengorbankan apa saja yang terbaik miliknya demi mempertahankan kecintaan yang luar biasa itu.
Membahas tentang pengorbanan berjuang di jalan Allah, ada satu kisah yang hendak saya sampaikan atas perjalanan hidup yang Allah hadiahkan kepada saya.

Dompet Dhuafa Kaltim mengundang saya untuk berpartisipasi dalam acara yang mereka buat demi membantu saudara-saudara korban gempa bumi di Sumatera Barat pada medio Oktober lalu. Tiket sudah dipesan, acara telah dirancang, hanya menunggu hari 'H'. Tanggal yang dimaksudpun tiba.
Seperti perjalanan ke luar kota sebelum-sebelumnya, saya menganggap bahwa ini adalah perjalanan dakwah biasa-biasa. Namun ternyata tidak!
Pesawat dikabarkan delayed 30 menit. Sebab saya merasa lapar saat itu, maka saya pun pergi mencari makan. Begitu saya kembali ke ruang tunggu rupanya sudah sepi, dan saya diberitahu bahwa pesawat sudah menutup pintu dan hendak berangkat beberapa saat.
Sedikit 'nerved', saya berargumen kepada petugas bahwa saya tidak mendengar panggilan atas nama saya atau pemberitahuan bahwa pesawat akan diberangkatkan. Setelah berupaya menghubungi pihak pesawat, petugas itu pun memberitahukan saya bahwa saya bisa naik ke pesawat. “Alhamdulillah...!†pekik saya. Andai saya tertinggal pesawat, maka tak bisa dibayangkan kekecewaan panitia penyelenggara di Balikpapan.

Beberapa saat kemudian, pesawat tiba di bandara Sepinggan, Balikpapan. Saya dijemput oleh perwakilan panitia. Dalam perjalanan menuju hotel, saya menanyakan lokasi acara. Mereka memberitahukan bahwa acara digelar di masjid Istiqomah. Saya bertanya , “Apa ada jemaahnya... bukankah ini malam minggu dan acara digelar pukul 20?†Dengan santai panitia menjawab, “Tenang pak...., insya Allah jemaahnya banyak. Sudah beberapa kali masjid ini bikin acara pada waktu serupa, Alhamdulillah jemaah antusias untuk datang.†Saya sedikit terhibur mendapat jawaban itu.

Rupanya benar dugaan saya, jemaah yang saya harap akan banyak hadir rupanya hanya memenuhi kira-kira seperempat dari kapasitas ruang masjid. Banyak terlihat 'space' melompong di sana-sini. Agak sedikit prihatin dengan jumlah jemaah yang ada, dan saya berpikir keras tentang target penggalangan dana panitia, maka saya pun berujar dalam hati, “Ya Allah, semoga kami mampu memberi yang terbaik di jalan-Mu!â€
Jujur saja, sebelum memulai menyampaikan materi, saya sedikit pesimis akan dana yang hendak digalang. Namun berulang kali saya berhenti berceramah untuk sekedar meluruskan niat Lillahi Ta'ala.

Maka saat penggalangan dana pun tiba. Saya melihat mereka semua antusias mengulurkan tangan memberi bantuan. Namun lagi-lagi karena jumlah audiens yang sedikit saya merasa khawatir akan jumlah dana yang tidak akan menyentuh target.
Alhamdulillah... dana terkumpul beberapa belas juta rupiah malam itu, namun jumlah itu saya yakin masih jauh dari target panitia.

Hanya kepada Dia Yang Maha Agung, kita sepantasnya berserah diri.

Malam itu bagi saya bukanlah sebuah prestasi dakwah yang menggembirakan. Saya sedikit prihatin dan kecewa. “Mengapa hanya segini rezeki yang Allah karuniakan dalam majelis kita?†batin saya.

Namun rupanya kekhawatiran itu segera dijawab Allah Swt. Seorang panitia datang kepada saya memberitahukan bahwa ada seorang jemaah hendak minta waktu untuk berbicara.
Setelah saya bersedia maka jemaah tersebut dipersilakan dan kami pun duduk berdua di karpet masjid.

Dia adalah seorang anak muda berusia 27 tahun, sebutlah namanya Hakim. Dari wajahnya saya melihat ada sinar yang Allah pancarkan ke dalam hatinya.
Ia mengajak bicara beberapa menit sebagai pembuka. Saat saya tanya apa keinginannya, maka Hakim berkata, “Tadi bapak dalam ceramah menyampaikan berulang-ulang untuk memberi yang terbaik di jalan Allah.†“Ya, betul!â€jawab saya.
Hakim melanjutkan, “Tadinya saya ingin memberikan hape saya ini sebagai infak...†Kalimat dari mulutnya terputus. Ada jeda beberapa detik bagi Hakim untuk menyambung kalimatnya. Saya pun penasaran menunggu selama itu.
“Namun setelah pikir-pikir, sepertinya saya urung memberi hape ini†jelas Hakim.
“Lalu apa yang hendak Anda sampaikan kepada saya?†saya bertanya kepadanya. Hakim pun menjawab, “Setelah saya berpikir ulang, maka saya mendapati bahwa harta terbaik yang saya miliki bukanlah hape, tapi saya mohon bapak menerima ini sebagai infak dari saya!â€
Maka Hakimpun menjulurkan tangannya kepada saya seolah ingin berjabat, dan saya pun menyambut tangannya yang terulur.
Namun saya merasa ada sebuah benda cukup besar yang terselip antara telapak tangan kami. Saya bertanya kepada Hakim, “Apa ini?†Dia menjawab, “Itu harta terbaik yang bisa saya infakkan, pak!â€
Saya pun membuka telapak tangan saya. “Subhanallah...!†saya terperanjat. Kini ditelapak tangan saya ada sebuah kunci mobil.
Saya terkagum, terpesona, dan sesaat terbungkam. Betapa terperanjat hati saya sehingga bola mata terasa hendak meloncat saat menerima infak sebesar ini.
Seketika itu juga hati saya berbunga sebab merasa terhibur dengan anugerah luar biasa yang Allah berikan kepada saya.
Dana yang telah digalang malam itu yang bernilai hanya beberapa belas juta rupiah, rupanya dilengkapi Allah Swt dengan sebuah mobil milik Hakim yang ia infakkan dengan harga saya yakin lebih dari 100 juta rupiah.

Hakim, 27 tahun memberikan harta terbaik yang ia miliki untuk membantu saudara-saudaranya yang menjadi korban gempa di Sumatera Barat.
Ia berkorban dengan sepenuh hati dan kesadaraan penuh. Meski mungkin kini ia belum punya mobil lagi, namun saya yakin hatinya sudah setenang nabiyullah Ibrahim Alaihis-salam saat hendak mengorbankan anaknya tercinta. Ya, ketenangan dan kedamaian yang diberikan kepada Ibrahim As dari Allah Swt yang kagum atas pengorbanan hamba-Nya.

(Bobby Herwibowo (bobby_hero77@yahoo.com)

Bunga-Bunga Amal


Kualitas amal berbanding lurus dengan kualitas iman dan ibadah
Kualitas iman seseorang dapat dilihat dari kualitas amal yang dilakukannya.
Orang yang iman dan ibadahnya berkualitas maka amalnya pun berkualitas
Tutur katanya lembut tidak menyakiti
Pikirannya jernih tidak berburuk sangka
Tingkah lakunya sopan menyenangkan orang lain

Sesungguhnya amal itu bersifat halus
Sempurnanya amal itu hanya dapat dirasakan oleh orang yang melakukan dan Allah Tuhan yang Maha menyaksikan.
Begitu juga Ikhlasnya seseorang beramal hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan dan Allah Tuhannya.

Bunga-Bunga Amal :

# Bekal menghadapi musibah adalah SABAR
Bekal menghadapi nikmat adalah SYUKUR
Dan Bekal menghadapi kematian adalah AMAL dan AMPUNAN Allah

“Kami memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami mendatangkan (pahalanya) . Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan” (QS Al-Anbiya :47)

# Sebelum engkau menegur orang lain , maka TEGURLAH DIRIMU terlebih dahulu.
Sebelum engkau menyuruh orang lain maka SURUHLAH DIRIMU terlebih dahulu
Dan sebaik-baik teguran dan suruhan adalah TELADAN

“Hai orang-orang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS As-saff :2-3)

# Derajat manusia di akhirat nanti ditentukan oleh bagaimana KETAATANNYA kepada Allah melalui proses UJIAN demi UJIAN selama HIDUPNYA didunia.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-anbiya’ : 35)

# PUPUK JASMANI adalah MAKANAN
Dan hasilnya adalah pertumbuhan fisik dan kotoran
Akan tetapi PUPUK ROHANI adalah FIRMAN Allah
Dan hasilnya adalah pertumbuhan IMAN dan AMAL kebajikan

Seseorang dapat melakukan amal kebaikan apabila memiliki hati yang bersih dan peka. Hati ibarat Handpone yang senantiasa harus di charge, dengan memperbanyak membaca Al-quran, hadis Rasulullah SAW, buku-buku agama dan yang memberi manfaat bagi pertumbuhan hati kita.

# Seandainya harta dibawa mati maka merugilah orang-orang yang miskin kekayaannya . Akan tetapi karena harta tidak dibawa mati maka MERUGILAH orang –orang yang KIKIR sedekahnya.

Tidak sedikit orang yang terbuai oleh keindahan dunia , dimabukkan oleh kenikmatan dunia, dilalaikan kesenangan dunia , namun akhirnya menemui penyesalan diakhir hidupnya.

# Sungguh ANEH orang yang di dunia TIDAK SUKA BERAMAL untuk akhirat, bukankah sesungguhnya keuntungan dan pahala amal kebaikan di dunia itu pasti akan kembali kepada orang yang melakukannya di akhirat? Dan bukankah kita di dunia UNTUK akhirat?

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh kedalam surga –surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra “ (QS Al-Hajj : 23)

( Sumber : H.M Komarudin Cholil, “ Penyejuk Qolbu Mencapai Akhlak Mulia “ dikirim : Bulan Cahaya)

BILA ALQURAN BISA BICARA


Allah SWT berfirman:
"Berkatalah Rasul, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". (Al-Quran Surat Al-Furqan,25:30)

Saudaraku, seandainya Al-Quran bisa ngomong, dia akan berbicara:
“Waktu Engkau masih kanak-kanak, Kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu' aku Kau sentuh dalam keadaan suci
Aku Kau pegang, Kau junjung dan Kau pelajari
Aku Engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai Engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang Engkau telah dewasa...
Nampaknya Kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sekarang aku Engkau simpan rapi sekali hingga kadang Engkau lupa dimana menyimpannya

Aku sudah Engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar Engkau dianggap bertaqwa
Atau aku Kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku Engkau pendamkan.
Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku Engkau baca beberapa halaman

Sore harinya aku Kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....
Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...Engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang..Engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, Engkau abaikan dan Engkau lupakan...
Waktu berangkat kerjapun kadang Engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan Engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk Kau baca sebelum Kau mulai kerja
Di Komputermu pun Kau putar musik favoritmu
Jarang sekali Engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang Kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa Engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba Engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam Engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah
Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan Engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ?
Bila Engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhan-Nya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku Engkau dapat selamat melaluinya.
Sekarang Engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku Engkau baca selalu dan Engkau hayati...
Di kuburmu nanti....Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu Engkau membela diri
Bukan koran yang Engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu
Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar Engkau senantiasa mengingat Tuhanmu
Sentuhilah aku kembali...
Baca dan pelajari lagi aku....
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu....dulu sekali...
Waktu Engkau masih kecil , lugu dan polos...
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku Engkau biarkan sendiri....
Dalam bisu dan sepi....
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Allah berfirman:
“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” ( Al-Quran Surat Al-Isra’,17:09)

Rasulullah Saw bersabda:
“Bacalah Al Quran …sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (pembela) bagi pembacanya” (HR.Muslim)

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dan kebaikan berlipat sepuluh kali”(HR.At Tirmidzi)
(Penulis: Kang Imam Puji Hartono, semoga Allah memberkahinya selalu dengan beberapa tambahan ayat dan hadits)

Rumah Yang Aneh

Setiap orang pasti menginginkan rumah yang nyaman, dengan pekarangan yang luas tempat bermain anak-anak, tapi ada aja yang bersikap nyleneh dengan membangun rumah di tempat-tempat atau dengan gaya yang diluar batas kelaziman.





Sabtu, 19 Desember 2009

Jalan Yang Aneh

Rasanya aneh dan dan dahi jadi berlipat kalau memikirkan apa sih yang dipikirkan orang yang membuat jalan seperti ini. Saat semua orang berpikir untuk membuat jalan Tol agar jarak dan waktu tempuh dipersingkat, malahan membuat jalan yang berkelok. Tapi itulah kreativitas. Jadi...sah-sah saja




Indahnya Ciptaan Allah

Melihat pemandangan alam yang cantik, selalu ada satu hal yang tertinggal yaitu semakin eratnya keyakinan bahwa allah merupakan sang Maha segalanya. Subhanallah...



Sendal Jepit Istriku


Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

"Ummi... Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

"Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

"Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!" Jawabku masih dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

*******

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

"Ummi... Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi... isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?"

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah...wanita gampang sekali untuk menangis," batinku. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

********

Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Mi... Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku.
"Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.
"Lho, kok bilang gitu...?" selaku.
"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi.

"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

*******

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

"Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.

"Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidah (*) ku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya."

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

"Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

"Abi...!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
"Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

******

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu...," ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan 'iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

(Oleh : Yulia Abdullah)

Keterangan
(*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad
(**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu
(***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu